Lihat ke Halaman Asli

Remuknya Keberanian dalam Gelap

Diperbarui: 15 Januari 2020   20:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber ilustrasi:pixabay.com

Tugas sekolah baru saja selesai. Ada kekurangan beberapa lembar kertas untuk cover. Agar berkesan serius, perlu diberi kulit penutup yang bagus. Dan tentu selembar rugos. Agar huruf-huruf judul di kulit depan terkesan rapi dan modern. Harapan mendapat nilai tinggi tentu sudah bukan di angan. 

Hari sudah malam. Anas segera menyeret sepeda gunungnya dan memancalnya kencang. Toko Buku terdekat berjarak lumayan jauh. Ada kira-kira setengah kilometer. 

"Masih jam delapan. Toko masih buka. Aku harus cepat," pikirannya berkomando.

Dia tidak melewati jalan besar. Lebih cepat lewat gang. Jalurnya memotong. Tentu lebih cepat sampai.

Beberapa gang kecil mulus dilalui. Walau ada yang gelap, dia sudah terbiasa melewatinya. Bahkan dia pernah bergurau pada kawannya. Seandainya dengan mata tertutup pun dia masih sanggup mencapai jalan besar. Saking hapalnya lika liku gang pemukiman penduduk itu. 

Beberapa puluh meter saja dari mulut gang, toko sudah terlihat. Toko Buku yang cukup sering dikunjunginya. Sedari SD hingga dia duduk di SMA kelas satu ini, toko buku itu selalu siap memenuhi kebutuhan sekolahnya.

Keperluan tugas malam itu sudah dalam genggaman. Anas bergegas balik kanan.
"Kekurangan cover dan judul saja, paling lima belas menit beres," gumamnya sambil berlalu.

Kembali dia menyusuri gang itu dengan kayuhan cepat. Pikirannya sudah di rumah. Baru saja melewati belokan kedua, belasan meter dari arah berlawanan, dia melihat sosok gelap sedang berjalan mendekat. Situasi gelap. Tidak ada lampu penerangan. Beruntung bulan masih sudi menebarkan cahaya. 

Gang yang agak sempit. Sosok lelaki seperti berambut panjang. Terurai tak beraturan. Anas memperlambat laju sepeda. Menghindari senggolan saat berpapasan. Ada rasa yang tetiba memudar enyah dari dadanya.

"Hey.. Siapa Kau?!" lelaki berambut panjang itu menghardik. Suaranya berat dan tebal. Seperti suara dari perut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline