Lihat ke Halaman Asli

Fauji Yamin

TERVERIFIKASI

Tak Hobi Nulis Berat-Berat

Mimpi Pemilik Warkop di Bawah Kaki Gunung Merapi

Diperbarui: 30 November 2022   13:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bu Mukiyem dan anaknya (dokumentasi pribadi)

Jalur Selo masih menyisahkan cerita bagi saya. Beberapa kali kunjungan, ketertarikan dan kekaguman pada ladang-ladang di bawah kaki Gunung Merapi dan Merbabu ini.

Rumah-rumah yang berjejer dibukit-bukit, jalur berkelok-kelok, pemandangan dan udara yang asri, penduduk desa yang aktif bekerja di ladang, bau-bau khas tumpukan pupuk hingga suasana pedesaan yang begitu memikat. 

Jalur yang menghubungkan Boyolali dan Magelang ini terhitung sudah saya lewati enam kali dalam dua bulan belakangan. Dan, tidak pernah ada sedikit pun rasa bosan menghantam. Apalagi bertemu dengan orang-orang dengan berbagai latar dan kisah yang memikat.

Salah satunya Bu Mukiyem dan anaknya Haris. Penduduk lokal yang membuka usaha warung kopi di Desa Samirang.

Pertemuan selalu terjadi karena ada sebab dan takdir, selalu punya cara tersendiri mempertemukan seseorang. 

Begitupun dengan saya, bertemu Bu Sukiyem ketika mampir ke warung. Hujan dan kabut yang menyelimuti jalur Selo membawa saya ke sini.

***

Pemandangan dari dalam Warkop (dokumentasi pribadi)

Hujan deras disertai kabut tebal membuat jarak pandang terganggu. Motor yang saya pacu sesekali harus dipelankan. Menerka-nerka posisi tikungan dan jalan agar tidak salah.

Petaka bagi saya dan teman ialah tidak memakai jas hujan. Dan lebih sial lagi, saya hanya memakai kameja tanpa jaket sebagai pelindung.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline