Lihat ke Halaman Asli

Ilmiawan

Mahasiswa

Surat untuk Generasi

Diperbarui: 15 Januari 2023   22:59

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Apakah ini saatnya, satu waktu yang tepat untuk menangis bersama? Bukankan ini adalah masa-masa yang buruk untuk kita, kaum muda. Aku mendengar banyak tangis terpendam di sukma dan di balik senyum manismu. Aku melihat beban bergelimpangan di balik pundak-pundak tua di usiamu yang muda. Aku melihat segaris kerutan yang mengerucut pada tawamu saat hujan turun membasahi kita tadi sore. 

Apalagi yang harus kita tunggu? Bukankah ini waktunya kita membebaskan diri dari mereka? Yaitu mereka yang sering berkata, "inilah waktu terbaik, kalian yang merasakannya!" "kami akan berikan apapun yang kalian mau, asalkan kalian ikuti kata-kata kami!" "kalian bisa mendapatkan apa saja sekarang," "oh, anakku, tolonglah, anakku!" dan segalanya akan ditutup dengan satu kalimat yang menyakitkan, "tidak seperti kami dulu..." 

Oh, aku ingin sekali membungkam mulut-mulut yang berkata seperti itu. 

Tidak seperti kami dulu, ya? Ah, aku sudah muak dengan omong kosong itu. Aku tak peduli seperti apa kalian dulu. Yang aku pedulikan adalah hidupku. Aku merasa tercekik dengan masa lalu kalian itu, apa kalian tidak mendengar suaraku? Bahkan aku tidak melihat satu kepedulian pun di balik kata-katamu, selain sebuah harga diri. Kami yang muda hanyalah pewaris tahta tak bermahkota, yang bahkan hanya kau seoranglah yang melihat itu, apa kau sendiri tidak melihatnya? Bagaimana setiap makanan, pakaian, dan penghargaan yang kau berikan, pada akhinya hanyalah berupa untaian tali yang perlahan mengikat kami di sebuah tiang gantung, kemudian tali itu bergerak dengan naluriahnya dan mencekik kami. 

Kalian memang benar, ini adalah masa-masa paling indah, kami bisa mendapatkan apapun yang kami mau. Tapi, tidakkah kau mengerti bahwa segala sesuatu menjadi sulit ketika kata-kata bijaksanamu yang indah itu mengotori dinding telinga kami. Aku memang seorang paranoid yang nyaris gila, tapi aku bukan android(1) yang berbunyi bip bip bip setiap kali mulutmu berkoar akan sejarah, yang bayi kecilpun memahaminya. 

Mereka juga benar tentang satu hal, bahwa saat sejarah berubah, suasana akan berganti. Tapi, yang tidak mereka lihat dari hal itu adalah, segala hal akan berubah saat satu sejarah telah tercipta. Begitupun dengan kata-kata. "hidup bukanlah tentang perlombaan, tapi perkembangan..." kata mereka, aku sepakat dengan itu, tapi perlahan, aku mulai menyadari, dengan mata menyipit aku melihat dengan pasti, di balik kata-kata sopan nan menggunggah itu, terdapat ular berbisa yang siap menyengatku kapan saja. 

Aku memahami bahwa masa lalu yang suram dan berwajah muram itu terlalu sulit untuk kalian jalani, dan yang kalian sebut awan mendung itu terus membasahi tubuh-tubuh yang kini menjadi sudah menjadi tua dan renta. Namun, saat sekarang yang penuh dengan matahari pagi, kalian terkesiap, terkesima, dan mungkin kejang-kejang, menyadari bahwa musim hujan yang panjang itu telah berakhir menjadi sebuah angin segar di musim semi, dan tentunya ini adalah sebuah masa yang menyenangkan. Oh, benar sekali, sayangku, ini adalah masa yang paling menyenangkan untuk kita semua. Demokrasi menjadikan tanah-tanah ini menjadi asri, tak ada lagi orang-orang mati di pinggir jalan karena harapannya pupus ditelan keadaan. 

Sebuah masa yang indah. namun sayangnya, aku tak lagi melihat itu sekarang. Aku hanya berharap, bahwa masa ini akan berganti menjadi satu masa di mana kami, generasi muda, menjadi tua, dan meneggakkan prinsip kami sendiri dengan tangan-tangan kami, untuk masa depan yang kami percayai, sebagai sesuatu yang lebih indah dari ini. Roda akan selalu bekerja seperti itu, begitupun dengan apa yang terjadi pada kalian saat ini. 

Tapi, akankah kita bisa bekerja sama? Satu hal yang pasti, kita sama-sama menginginkan angin ini bertiup menuju timur, di mana masa depan yang indah tengah bersemedi di atas batu sucinya. Tak bisakah kita berjalan bahu-membahu ke arah sana? Sudah berapa banyak generasi kami yang menderita penyakit jiwa hanya karena tuntutan yang semestinya hidup berjalan bukan atas dasar tekanan seperti itu. Aku sudah mendengar banyak sekali makian dan kata-kata manis, namun menyelekit kepada kami. 

Mungkin kalian telah menganggap bahwa kami adalah kaum-kaum dengan daya juang yang rendah. Kami lemah, rentan sakit, dan penyakitan, segala sesuatu yang instan adalah tujuan kami. Dan pernahkah kau bertanya kenapa? Kenapa kami selalu enggan makan bersama di meja makanmu, kenapa kami senang berteriak di jalan-jalan saat orang-orang sudah tidur di pembaringannya? atau kenapa kami senang memberikan musik-musik keras untuk telinga kami? Atau mungkin kenapa kami enggan membuka mulut kami? kenapa kami lebih senang menghabiskan waktu di balik kamar seorang diri? Atau bermain di luar rumah saat kau merasa kami punya rumah untuk beristirahat? Pernah kau bertanya itu pada kami? Itu karena kalian tidak mau mendengar suara kami. Oh, kami pada kenyataannya adalah kaum-kaum pembohong, kami senang berbohong. "aku baik-baik saja," "oh, baju ini bagus sekali," "oh terima kasih, anda sangat baik," Oh, oh, oh, dan ada banyak sekali oh yang lain-lain untuk kalian ketahui. 

Pernah kau mengetahui kebenarannya seperti apa? Setidaknya secuil rasa penasaran itu rasanya sudah cukup untuk kami. Tapi, kau tak pernah punya itu di dalam sanubari. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline