Lihat ke Halaman Asli

Nurrahman Fadholi

Mahasiswa, pengajar, penulis

Tonny Koeswoyo, Sang Pionir Musik Pop Indonesia

Diperbarui: 19 Januari 2022   19:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tonny Koeswoyo (sumber: batamtoday.com)

Siapa yang tidak mengenal grup musik legendaris Koes Plus ataupun Koes Bersaudara? Dua grup musik tersebut adalah legenda dalam sejarah musik pop dan rock and roll di Indonesia. 

Dalam sejarah terbentuknya dua grup band tersebut tentu tidak lepas dari sosok musisi jenius Tonny Koeswoyo. Tonny Koeswoyo lahir di Tuban, 19 Januari 1936 dari pasangan R. Koeswoyo dan Rr. Atmini. Tonny merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara, namun anak pernama dari pasangan Koeswoyo dan Atmini meninggal dunia waktu masih bayi. 

Tonny merupakan kakak dari Nomo, Yon, dan Yok Koeswoyo. Bersama adik-adiknya tersebut, Tonny membentuk grup musik Koes Bersaudara pada tahun 1964. 

Kakak Tonny yang bernama John Koeswoyo pernah bergabung dalam grup band itu saat masih bernama Kus Brothers, namun ia hanya bergabung hingga tahun 1964.

Pada 25 Juni 1965, Koes Bersaudara tampil di sebuah acara yang diselenggarakan oleh Kolonel Koesno. Saat itu, Koes Bersaudara tampil bersama Dara Puspita, grup musik wanita yang tersohor kala itu dan Quarta Nada. Ketiga band top itu membawakan lagu-lagu barat secara bergantian. 

Namun ketika Koes Bersaudara tampil membawakan lagu 'I Saw Her Standing There' milik grup musik The Beatles, hujan batu pun menyasar di luar rumah Kolonel Koesno diikuti dengan teriakan, "Ganyang Nekolim! Ganyang Manikebu! Ganyang Ngak-Ngik-Ngok!". 

Pertunjukan itu pun terhenti dan Koes Bersaudara dipaksa untuk meminta maaf dan berjanji tidak akan memainkan lagu ngak-ngik-ngok lagi. Pada 29 Juni 1965, Tonny, Nomo, Yon, dan Yok Koeswoyo ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Glodok. 

Selama di dalam penjara, Tonny Koeswoyo semakin produktif menulis lagu yang terinspirasi oleh pengalamannya saat di dalam penjara. Lagu seperti 'Di Dalam Bui', 'Jadikan Aku Dombamu', 'Balada Kamar 15', dan 'Untuk Ayah dan Ibu'. 

Pada 29 September 1965, sehari sebelum pecahnya tragedi Gerakan 30 September, mereka dibebaskan dari sebuah penjara yang kini telah menjadi tempat pembuatan CD bajakan.

Pada tahun 1968, terjadi konflik internal di tubuh Koes Bersaudara. Saat itu, Nomo yang telah berkeluarga memiliki pekerjaan sampingan di luar Koes Bersaudara. Hal ini membuat Tonny naik pitam karena ia pernah mendapati Nomo sedang membicarakan bisnis mobil bersama temannya saat sedang latihan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline