Lihat ke Halaman Asli

Novia Elga

Penulis

Semangat Ibu Menjadi Motivasi Hidupku

Diperbarui: 22 Desember 2022   10:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Semangat Ibu Menjadi Motivasi Hidupku

Karya Novia Elga Rizqiya

Wanita adalah manusia yang dianugerahi sifat kasih sayang. Ia memiliki ribuan kata maaf dalam setiap kesalahan. Wanita itu adalah Ibu. Orang yang sangat berpengaruh dalam hidup. Do’a serta ketulusannya menyertai setiap langkahku. Obat dalam setiap luka. Peneduh dalam setiap angkara. Penunjuk dalam setiap kebingungan. Pemberi nasehat dalam setiap kendala yang kuhadapi.

Ibuku adalah seorang guru honorer yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun. Mengajar di sekolah swasta yang terletak jauh dari rumah. Kegiatan sebelum berangkat ke sekolah adalah berjualan. Ibu memiliki took kecil di depan rumah yang menyediakan semua kebutuhan rumah tangga. Termasuk sayuran dan sembako. Kegiatan Ibu diawali setelah berjamaah di mushola, kemudian langsung buka toko.

Dimana ibu mendapatkan sayuran itu ? Ya. Ibu mendapatkan sayuran dengan berbelanja langsung di pengepul sepulang sekolah atau sore hari setelah mengajar TPQ. Memang kegiatan ibu sangatlah padat. Kembali pada kegiatan setelah subuh. Pembeli berdatangan untuk membeli cabai, tomat, kentang, bayam, kangkung, terong, dan sayuran lainnya. Lumayan lengkap dan ibu menjualnya dengan murah karena memang sekitar rumah perekonomiannya menengah ke bawah.

Kegiatan berjualan sayuran dan sembako berakhir pukul 07.00 karena ibu harus berangkat ke sekolah. Perjalanan kira-kira 20 sampai 30 menit. Ibu mempersiapkan diri sembari melayani apabila ada pembeli. Pukul 07.30 saatnya masuk kelas. Ibu menjadi wali kelas 6 yang sudah bertahun-tahun menjalani tugas tersebut. Setiap tahun ia selalu mendapatkan banyak kado ketika ulang tahun. Dan Ibu lahir pada tanggal 10 Desember lalu. Alhamdulillah di usia senjanya, ibu masih kuat dan menjadi manusia hebat.

Kegiatan di sekolah berakhir pada pukul 13.00 setelah sholat dzuhur berjamaah. Beliau pulang dengan estimasi sampai di rumah pada pukul 13.30. Beliau merebahkan tubuhnya yang lelah untuk beberapa saat. Beristirahat sejenak dan makan siang dengan tenang hanya dapat dirasakan Ibu untuk waktu yang singkat. Sebab, pukul 14.00 anak-anak kecil sudah mulai berdatangan ke rumah untuk mengaji.

Rumahku adalah salah satu TPQ (Taman Pendidikan al-Qur’an) yang sudah berdiri sejak 2013. TPQ kami bernama ar-Rohmah. Ibu salah satu pengajar dengan dibantu ustadz-ustadzah lainnya. Dan inilah salah satu sebab mengapa ibu rela bekerja banting tulang. Untuk memberikan sedikit uang keringat untuk pengajar di TPQ kami.

TPQ kami sebenarnya diawali dari keresahan Ibu yang melihat anak-anak tidak pernah mengaji karena tempatnya jauh. Mereka hanya bermain saja sepulang sekolah. Akhirnya Ibu memanggil mereka dan mengajarinya satu persatu. Dengan semula berjumlah 5 anak, kini ada 80 anak yang ikut mengaji dengan dibagi menjadi 2 sesi yakni sesi sore dan sesi malam.

Ibu mengajar bersama ustadz ustadzah lainnya pada pukul 14.00 dan pulang pukul 16.30. Jumlah ustadz yang membantu ibu ada 6 orang sesuai jadwal. Karena anak yang terlalu banyak, maka mengaji dibedakan sesuai dengan usianya yakni sore untuk anak yang berusia maksimal SD kelas 6, dan malam untuk anak yang berusia SMP hingga SMA.

Ibu sangat gigih dan kuat. Seusai mengajar ngaji, beliau buka kembali tokonya dan kembali berjualan sayur. Apabila sayur sudah mulai habis, maka beliau mengambil sayur segar ke pengepul. Sehingga setelah maghrib sembari membuka toko, ibu juga mengawasi anak-anak yang mengaji malam. Untuk mengaji malam, ada yang membantu ibu untuk mengajar yakni Ustadz Maulana yang mengajar Qiro’at atau Tilawah. Dan Ustadz Aziz yang mengajar banjari atau qosidah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline