Lihat ke Halaman Asli

Di Mana Independensi Media?

Diperbarui: 28 Juli 2021   11:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Media. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Free-photos

Seorang teman lama - mantan jurnalis - suatu kali berkirim WhatsApp dengan saya. Entah mengapa tiba-tiba saja dia mengeluarkan uneg-unegnya. Begini katanya: media massa sekarang parah. Sudah tidak netral lagi."Di mana independensi media," dia menggugat.

Saya agak kaget juga. Tumben lama tidak bersua. Tiba-tiba sohib lama yang pernah bareng liputan di Papua mempertanyakan independensi media. Gugatan serupa juga sering saya terima ketika mengajar di kampus. Di masa pandemi Covi-19, mengajar memanfaatkan daring. Ya google meet atau google class room. Setiap di penghujung kelas, selalu saja ada pertanyaan mirip-mirip teman saya itu.

Saya jadi teringat ketika TvOne telat menayangkan kasus menimpa Nia Ramadhani dan suaminya Ardi Bakrie beberapa waktu lalu. Nitizen gemas karena stasiun televisi yang satu tidak menayangkan "taruna" yang (istilah kejadian atau peristiwa di kalangan serse di lapangan). Bagi media lain kejadian itu mempunyai nilai berita yang tinggi. Ada publik figur yang tersangkut dalam kasus narkoba itu. Ya nama besar!

Bagi saya apa yang dilakukan TvOne yang akhirnya telat sah-sah saja. Dalam konteks ilmu komunikasi bukan sesuatu yang dianggap salah. Sebab bagaimana  media massa (seperti halnya TvOne) mempunyai sikap terhadap isu apapun yang berseliweran di jaga raya ini. Inilah yang disebut sebagai framing.

Eriyanto dalam Analisis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media menyebutkan, analisis framing merupakan salah satu alternatif model analisis yang dapat mengungkap rahasia di balik semua perbedaan (bahkan pertentangan) media dalam mengungkap fakta. Analisis framing dipakai untuk mengetahui bagaimana realita dibingkai oleh media.

Melalui analisis framing akan dapat diketahui siapa yang mengendalikamengendalikan siapa, siapa lawan siapa, mana kawan mana lawan, mana patron dan mana klien, siapa diuntungkan dan siapa yang dirugikan, siapa menindas dan seterusnya.

Dalam konteks berita Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie maka sah-sah saja jika TvOne memilih untuk tidak langsung menayangkan kejadian tersebut. Karena memang itulah framing TvOne dalam kasus narkoba yang melibatkan Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie.

Bagi stasiun televisi swasta yang satu ini: berita penangkapan itu jelas tak sesuai dengan konstruksi, ideologi dan politik medianya. Tidak mungkin memberikan sesuatu yang berkaitan dengan sang pemilik modal tentunya. Semua orang pun tahu!

Apalagi sekarang kondisi sudah berubah. Sekarang ini adalah era banjir informasi. Pembaca kini tidak lagi menjadi patung yang dijejali dengan pelbagai informasi tetapi pembaca kini bahkan sudah menjadi pemred, redpel, editor bahkan reporter dalam melahirkan berita demi berita melalui media sosial yang dimilikinya: bisa melalui twitter, facebook atau Instagram

Modalnya cuma melihat (bisa juga mendengar) lalu dengan jari-jari ini melaporkan apa yang dilihat bahkan dialaminya atau kata orang dan kemudian dalam hitungan detik atau menit muncul di media sosial. Dalam banyak hal media arus utama keteteran dengan serangan bertubi-tubi media sosial.

Saya punya pengalaman ketika masih bekerja sebagai jurnalis di Harian Angkatan Bersenjata. Ketika itu ada rekan saya (saya tidak sebut namanya karena yang bersangkutan telah lama berpulang) terpaksa harus "menginap" di Mabes ABRI Cilangkap hanya karena mengangkat berita yang dianggap keliru terkait Panglima ABRI Jenderal Faisal Tanjung dalam sebuah kunjungan ke Pondok Pesantren Gontor Jawa Timur.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline