Lihat ke Halaman Asli

ITS : Teknologi Kilang Terapung Blok Masela, Ramah Lingkungan

Diperbarui: 8 Desember 2015   18:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Sumber Foto : http://travellersindo.blogspot.co.id/2014/07/mari-mengenal-pulau-aru.html"][/caption]

Sumber Foto : http://travellersindo.blogspot.co.id/2014/07/mari-mengenal-pulau-aru.html

Ada kekhawatiran apabila kilang/stasiun penerima LNG Blok Masela diletakan dilaut, diantaranya adalah mengenai kondisi alam dan letak geografis serta pembangunannya yang memakan biaya yang cukup mahal. Pertimbangan seperti itu sah-sah saja asal didasari dengan fakta yang bisa dibuktikan dengan penjelasan ilmiah mengenai risiko yang menjadi faktor kekhawatiran tersebut.

Akan tetapi Indonesia harus menyadari kembali bahwa konsepsi pengembangan infrastruktur berbasis darat yang selama ini dianut oleh bangsa kita, sudah waktunya di evaluasi, mengingat kenyataan kita sebagai negara maritime yang berbasis kepulauan.

Presiden Joko Widodo pernah menyatakan bahwa kita sudah terlalu lama memunggungi laut, tidak mempedulikan dan mengabaikan potensi laut Indonesia. Banyak negara kontinen (daratan luas) sudah berkonsepsi maritime dalam perencanaan infrastruturnya, termasuk infrastruktur distribusi energy. Sementara kita yang merupakan negara maritime, seharusnya berpindah haluan dari konsepsi kontinen menuju konsepsi maritime.

Pada 16 Nopember 2015 yang lalu, Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama PT PAL, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), UPT-BPPH BPPT, PT Biro Klasifika Indonesia (BKI) menyelenggarakan kajian terhadap teknologi kilang laut ini.

http://www.antaranews.com/berita/529754/its--petakan-kapabilitas-dalam-pembangunan-masela

https://www.its.ac.id/article/pengelolaan-migas/id

Kajian disusun dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting dalam pengambilan keputusan teknologi pengelolaan sumber daya minyak dan gas laut dalam, yang didasarkan atas beberapa kajian teknis dan analisa yang meliputi beberapa aspek yaitu :

  1. Keselamatan (safety),
  2. Seakeepingmotion,
  3. Mooring System
  4. Gas Treating dan Proses,
  5. Geohazard,
  6. Waktu konstruksi,
  7. Fleksibilitas operasi,
  8. Investasi,
  9. Pengaruh terhadap pertumbuhan wilayah dan industry
  10. Aspek potensi kandungan local (local content)

Hasil kajian tersebut menyimpulkan beberapa kesimpulan sebagai berikut diantaranya :

  1. Aturan klasifikasi internasional yang berkaitan dengan keselamatan FLNG sudah banyak dihasilkan oleh beberapa badan klasifikasi dunia seperti DNV,LR,NK,ABS,BKI, dll. Sebagai Badan Klasifikasi Nasional, BKI sudah memiliki Rules/Guidline, SDM dan pengalaman untuk pengembangan laut dalam.
  2. Berdasarkan kajian yang pernah dilakukan oleh ITS Surabaya, bahwa tingkat risiko operasional FLNG berada pada level ALARP (As low As Resonaby Precticable), dapat dipenuhi secara teknis,
  3. Mengenai keberlangsungan produksi yang dikhawatirkan karena kondisi lingkungan laut dalam yang berdampak pada gerakan kilang penerima LNG (FLNG), dapat ditanggulangi dengan mooring system (system penambatan) yang terpercaya, system water ballast yang sesuai serta system pendukung lainnya.
  4. Dari aspek proses, sudah tersedianya teknologi untuk menghadapi permasalahan maupun proses pada FLNG seperti fleksibilitas proses, motion (Sloshing), distilasi (fractionation), Separator, Heat exchanger dan konstruksi/struktur berat dan keterbatasan tempat dan kemanan. Pemanfaatan divided wall column, desain layout peralatan mengikuti distribusi berat diyakini mampu mengurangi osilasi dan meningkatkan stabilitas dan menjamin kehandalan dan keberlansungan proses pengolahan gas alam dan produksi LNG itu sendiri.
  5. Berdasarkan aspek geohazard, daerah sekitar Masela adalah rawan seismic, ITS menimpulkan bahwa penggunaan system perpipaan untuk mengalirkan gas ke darat (OLNG) tidak direkomendasikan. Hal ini selain karena jauhnya jarak (600 km ke Kepulauan Aru atau 120 km ke Saumlaki), juga ada beberapa ancaman yang mengarah kepada kerusakan pipa akibat potensi gempa yang berdampak pada terangkatnya pipa yang terpendam, rekahan tanah, kelongsoran tanah didasar laut serta penurunan tanah.
  1. Teknologi Floating structure memiliki fleksibilitas dalam penggunaan karena dapat direlokasi dengan mudah dan aman jika suatu saat gas alam di suatu lokasi sudah habis dan ditemukan gas alam dilokasi lainnya.

Hal diatas membuktikan bahwa FLNG sangat layak dan dibutuhkan untuk Blok Masela. Apabila pemerintah tetap memaksakan membangun kilang didarat (OLNG), selain biaya yang lebih mahal yang lebih berisiko adalah kerusakan alam serta ekosistem yang ada dilaut sekitar Masela karena pembangunan pipa bawah laut dan Pulau Aru/Pulau Saumlaki karena pembangunan stasiun penerimaan LNG.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline