Lihat ke Halaman Asli

[Kearifan Lokal] "Eha'a" Budaya Petani Kelapa Talaud

Diperbarui: 12 Desember 2021   16:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Kelapa Bagi Masyarakat Talaud

'Daerah Nyiur Melambai'…... Julukan ini merupakan sebutan bagi Provinsi Sulawesi Utara.

Seperti yang kita ketahui, pohon kelapa merupakan pohon yang dapat dimanfaatkan seluruh bagian tanamannya, mulai dari akar, batang, daun, dan buahnya. Kelapa merupakan komoditas yang banyak dibudidayakan di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. 

Mayoritas masyarakat menggantungkan kehidupannya kepada kelapa. Di daerah Talaud petani kelapa dikenal dengan istilah local ‘Kopra’. Sebenarnya, selain menjadi petani kelapa, pekerjaan yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat adalah menjadi seorang nelayan.

Selain dijual, bagian dari pohon kelapa ini juga biasa dimanfaatkan oleh warga setempat untuk aktivitas sehari-hari, seperti bagian janur pohon kelapa yang digunakan untuk menangkap ikan, ini dikenal dengan sebutan ‘Manee’ oleh masyarakat setempat. 

Selain itu bagian sabut kelapa yang biasa menjadi limbah, sekarang sudah mulai diolah oleh masyarakat lokal menjadi bahan pembakaran pengasapan ikan maupun menjadi cocopid kelapa.

Dalam melakukan budidaya kelapa, terdapat aturan lokal yang harus ditaati oleh masyarakat setempat, aturan ini dikenal dengan nama “Eha’a”.

Kearifan Lokal Budaya Eha’a

Budaya Eha’a adalah suatu tradisi yang mengelola dan mengendalikan sumber daya alam agar tidak dieksploitasi dan tidak rusak, sehingga bisa dimanfaatkan oleh anak cucu mereka di kemudian hari. Budaya ini mulai dikenal sejak tahun 1961, dan masih eksis sampai saat ini.

Budaya ini harus ditaati oleh masyarakat setempat, dan jika ada masyarakat yang melanggar, maka akan dikenakan sanksi dan juga dipercaya kesialan akan menimpa lahan mayarakat tersebut. Adapun kesialan yang dapat terjadi antara lain hasil panen buah kelapa berkurang, tanaman kelapa lebih cepat mati, dll.

Sebelum budaya Eha’a ini dikenal, masyarakat memanen kelapa secara individu/ perseorangan, dan dikenal dengan sebutan ‘Manarada’. Hal ini didukung juga oleh jumlah warga desa Talaud yang bisa dibilang sangat sedikit jaman dahulu. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline