Lihat ke Halaman Asli

Melulu Berfokus pada Dirinya Sendiri, Kapan Manusia Mempertimbangkan Etika Lingkungan?

Diperbarui: 6 Juni 2018   11:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Photo: Doc. Penulis

"Tumbuhan disipakan untuk kepentingan binatang dan binatang disediakan untuk kepentingan manusia", Plato (Filosof Yunani).

Arti lain dari pernyataan itu adalah bahwa manusia dan kepentingannya dianggap paling menentukan tatanan ekosistem, sedangkan tumbuh-tumbuhan dan binatang dianggap sebatas pelayan kebutuhan manusia.

Sama artinya bahwa alam tidak diletakkan sebagai tujuan tindakan sosial manusia, melainkan hanya dinilai sebatas alat bagi kepentingan manusia. Alam semesta seperti, air, tanah, udara, pasir, tumbuh-tumbuhan dan binatang, tidak lebih dipandang hanya alat untuk menggapai kesejahteraan manusia. 

Karakter dan mental manusia yang berpikir demikian disebut sebagai mental antroposentris, yang kemudian berwujud pada manusia yang berkarakter pendobrak lahan-lahan baru (Susilo, 2014).

Bagaimana ciri manusia antroposentris?

Pertama, mereka memandang bahwa alam dan bumi sebagai pemberi sumber kehidupan yang tidak terbatas, dengan keyakinan "akan selalu ada sesuatu lagi".

Kedua, mereka memandang bahwa manusia sebagai mahkluk hidup di luar alam, bukan bagian dari alam. Dengan kata lain bahwa manusia dipandang eksklusif dan memiliki dunianya sendiri, ia tidak bersama dengan alam. Ketiga, mereka memandang bahwa alam sebagai sesuatu yang perlu dikuasai. Alam yang menguntungkan manusia saja yang dilindungi dan dimanfaatkan, sementara yang tidak menguntungkan manusia ditelantarkan saja (Yusuf, 2000; dalam Susilo, 2014).

Masyarakat Indonesia secara tidak sadar sebagian besar sebagai penganut antroposentris. Pada masyarakat yang antroposentris, hanya berorientasi pada kepentingan manusia semata (kepentingan untuk mengeksploitasi alam dan kepentingan ekonomi). 

Penggunaan Zat Bahan Perusak Ozon (BPO) merupakan contoh Antroposentris. Photo: Doc. Penulis

Oleh karena itu, sebagai akibatnya masalah lingkungan selalu diabaikan. Kerusakan lingkungan sebagai isu publik hanya mengemuka setelah masyarakat banyak menjadi korban atas musibah dari kerusakan-kerusakan lingkungan. Sebaliknya, jika kerusakan lingkungan belum mengakibatkan kerugian manusia, diabaikan.

Sunyoto Usman (Sosiolog) (dalam Susilo, 2014) menyatakan bahwa hal yang paling mencemaskan ketika antroposentrisme tidak bisa dibedakan dengan watak-watak manusia lain; the cornuopia view of nature, faith in technology, growth ethic, materialism dan individualism. Mari saya bahas secara singkat, the cornuopia view of nature yaitu pandangan yang beranggapan tentang alam yang terbentang luas dan tak akan pernah habis. Pandangan ini menyatakan bahwa sekalipun lingkungan terus-menerus dieksploitasi, ia akan dengan sendirinya membaik kembali.

Faith in technology, yakni keyakinan yang menganggap bahwa teknologi bisa menyelesaikan segala-galanya. Teknologi menghadirkan pencapaian kebutuhan manusia yang efisien, cepat, dan bersifat massal. Bahkan dengan angkuhnya manusia meyakini bahwa teknologi mampu menyelesaikan dampak-dampak negatif yang dihasilkan lingkungan di masa yang akan datang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline