Lihat ke Halaman Asli

Kajian Kerusuhan Mei 1998 dalam Aspek Hak dan Kewajiban

Diperbarui: 8 Desember 2022   20:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Kronologi

Kerusuhan Mei 1998 yang terjadi pada 13-15 Mei 1998 silam merupakan rentetan peristiwa-peristiwa pada sejarah yang diawali dari ketidakpuasan massal terhadap pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Kerusuhan ini dilatarbelakangi oleh banyak hal, dengan tragedi penembakkan mahasiswa Universitas Trisakti sebagai pemantik utama kekacauan yang melanda Indonesia dan daerah sekitarnya.

Kediktatoran yang opresif selama masa pemerintahan Orde Baru menjadi sumber utama terjadinya pelanggaran HAM yang berat. Adanya pembungkaman pendapat massa, pengendalian yang bersifat otoriter, penculikan tokoh-tokoh masyarakat, dan penembakan misterius merupakan sebagian dari penyebab frustasi massa kepada pemerintahan. Dari segi politik, rakyat tidak diperbolehkan untuk menggugat kebijakan pemerintahan.

Pemilihan umum yang seharusnya bersifat demokrasi dan terbuka, justru hanya terbuka untuk 3 partai saja, yang selama Orde Baru selalu dimenangkan oleh Partai Golkar yang dinaungi Presiden Soeharto. Tak hanya itu, tercatat berjumlah kasus KKN yang dipraktekkan oleh pemerintahan Orde Baru, yang tentu merugikan rakyat Indonesia.

Pada bulan Juli 1997, Indonesia dilanda oleh krisis moneter yang menyerang kawasan Asia. Pada peristiwa ini, Indonesia mengalami inflasi yang besar-besaran. Krisis tersebut diawali oleh didevaluasinya nilai mata uang Baht. Dengan demikian, nilai mata uang Rupiah terkena imbasnya, mendaki secara tajam dari kisaran Rp 2.600 menjadi Rp 14.900. Dengan demikian, ekonomi Indonesia merosot tajam dan berakar pada masalah-masalah lain. Harga kebutuhan pokok, angka pengangguran, dan angka putus sekolah melonjak. 

Peristiwa ini menjadi pemicu demonstrasi yang dipimpin oleh kaum mahasiswa. Di tengah-tengah krisis moneter ini, muncullah sentimen anti-Tionghoa. Penyebab adanya sentimen ini adalah adanya perbedaan perekonomian, di mana perekonomian etnis Tionghoa relatif lebih stabil dan strategis dibanding masyarakat pribumi. Akibat perbedaan tersebut, kaum etnis Tionghoa menerima berbagai macam fitnah dan tuduhan, seperti "penganut komunis" dan "penimbun sembako". Hal ini demikian memojokkan etnis Tionghoa sebagai etnis minoritas yang dibenci massa.

Peristiwa krisis moneter yang sangat merugikan rakyat inilah yang memicu mahasiswa untuk melakukan demonstrasi. Berdasarkan Komnas HAM, pada tanggal 12 Mei 1998, ribuan mahasiswa bersama gabungan staf dan dosen melakukan unjuk rasa secara damai. Menyadari besarnya skala dari unjuk rasa ini, aparat keamanan diturunkan untuk mengendalikan situasu. Pihak aparat dan mahasiswa sempat melakukan negosiasi yang berlangsung tanpa ketegangan apapun. Di penghujung unjuk rasa tersebut, pihak aparat meminta para mahasiswa untuk membubarkan diri dan kembali ke kampus, yang dituruti oleh mahasiswa. 

Tanpa disangka, pihak polisi membuka tembakan api pada rombongan mahasiswa yang sedang berjalan kembali ke kampus. Berlindung diri di dalam kampus pula tidak menjamin keselamatan akibat puluhan gas air mata yang ditembakkan ke dalam kampus, sementara hujan peluru yang diarahkan ke arah mahasiswa belum berhenti. Peristiwa ini menyebabkan 4 mahasiswa Universitas Trisakti gugur dan ratusan lainnya luka-luka.

Tragedi Trisakti yang menyebabkan kematian keempat mahasiswa ini menjadi pemantik dari sumbu kemarahan masyarakat Indonesia. Demonstrasi dan kerusuhan awalnya terjadi di kawasan sekitar Kampus Trisakti, sehari setelah peristiwa berdarah tersebut. Kemudian, aksi perusakan dan pembakaran yang terjadi meluas ke kawasan lainnya, hingga merambat ke Bogor, Tangerang, Bekasi, dan kota lain. 

Kerusuhan ini terjadi hingga tanggal 15 Mei 1998, dan pengaruhnya meluas ke seluruh Indonesia, tidak terbatas di dalam Pulau Jawa saja. Tetapi, mengutip dari Komnas HAM, kerusuhan yang awalnya dipicu oleh protes terhadap tragedi yang menimpa mahasiswa dialihkan menjadi sentimen anti-Tionghoa. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menemukan ribuan lahan properti milik etnis Tionghoa dijarah, dirusak, atau dibakar. 

Tidak hanya itu, TGPF menemukan sejumlah kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan, di mana sebagian besar korbannya merupakan perempuan beretnis Tionghoa. Tragedi Trisaksi sekana-akan menjadi pintu penghalang yang dibuka massa untuk meluapkan kebenciannya terhadap kaum Tionghoa yang dituduh sebagai dalang dari krisis di Indonesia. Berdasarkan laporan investigasi yang dibentuk TGPF, Kerusuhan Mei 1998 diduga mengakibatkan lebih dari 1000 orang meninggal, ratusan orang luka-luka, sejumlah kasus pemerkosaan wanita, dan kerugian negara yang menyentuh angka triliunan akibat kerusakan yang terjadi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline