Lihat ke Halaman Asli

Ni Wayan Penawati

Perupa dan penulis seni rupa

Acara Seni "Ethnic Pshycedelic Night" di Sanga Story Coffee Batubulan

Diperbarui: 28 Juni 2021   00:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

Minggu ini begitu padat akan acara kesenian, meskipun ditengah pandemi covid-19. Acara pameran dan pertunjukan musik dalam tajuk Ethnic Psychedelic Night diselenggarakan mulai 26 juni -- 3 juli 2021 di Sanga Story Coffee Batubulan.

Acara ini diinisiasi oleh founder Sanga Story Coffee "Keinginan memberi ruang untuk para seniman dan musisi yang kehilangan panggung ketika pandemi melanda, saya memiliki ruang publik sebagai tawaran ruang alternatif pengganti galeri, sehingga apresiasi seni tetap dapat berlangsung. Selain Sanga Story Coffee sebagai tempat nongkrong kini bertambah wawasan pengunjung dengan adanya suguhan musik dan seni visual" ungkap Arya Wira.

Menyambung keinginan Arya Wira, Made Krisna sebagai penyelenggara The Session merangkul teman- teman musisi dan perupa untuk merespon tema Ethinc Psychedelic.  

Sebagai penerjemah konsep dan wujud kekaryaan Penawati sebagai penulis mengungkapkan makna dari Ethnic Psychedelic terdiri dari dua suku kata yang diartikan sebagai terbentuknya ekspresi jiwa yang bebas. Ethnic berarti kesukuan, kelompok atau grup.  Psychedelic merupakan kata yang dipinjam dari bahasa Yunani terdiri dari  Psycho, artinya pikiran, jiwa, dan mental, dan Delic atau Delein, artinya memanifestasikan, mewujudkan/merealisasikan. Dalam pameran ini ingin mengungkapkan hasil realisasi jiwa masing-masing ke dalam media seni dengan ekspresi masing- masing seniman.

dokpri

Medium plat sebagai titik temu penyatuan antara kolaborasi musisi dan perupa. Diwakili oleh Made Kaek (seniman) dan Lizen (Grup musik) plat sebagai media yang mampu mentransfer energi jiwa dalam rupa maupun musik. Selain kolaborasi tersebut turut hadir teman- teman yang merespon tema Ethnic Psychedelic dalam karyanya diantara lain ;

Ida bagus eka suta harunika, atau biasa dipanggil ekasutha, menampilkan karya lukis yang sarat akan kode visual tradisi dipadukan dengan pop culture hari ini.

Gede Sukarya, dimata Sukarya segala objek diterjemahkan menjadi bentuk yang lebih sederhana dan simple dengan tatahan kulit yang bulat- bulat. Sehingga tiap detail karyanya memberikan ruang imajinasi bagi penikmatnya untuk memperhatikan lebih bagaimana karyanya dapat membentuk ilusi imajinier dan pengalaman dari penikmatnya.

Iwan Sastrawan, memiliki latar belakang sebagai arsitek tidak menghambat dirinya untuk menjalankan hobi berkesenian sebagai photography, music, visual art. Dalam menciptakan karya seninya Iwan memilih drawing on paper dengan ballpoint ataupun pulpen.

Made Krisna, menyuguhkan dua karya seni lukis diatas kertas. Karya- karyanya banyak terinspirasi dari pengalaman hidup, fenomena yang sedang terjadi, sifat manusia, kecintaan terhadap binatang, hingga hal yang tabu seperti sex. Selain melukis krisna gemar bermusik, saat ini ikut bergabung dalam grup Lizen musik dengan konsep akustik yang menyuguhkan genre Ethnic.

Narreth, dalam karyanya banyak terinspirasi dari keberagaman suku dan budaya di nusantara ini sebagai media ungkap konflik sosial yang dialami dalam keseharian. Kegiatan berkeseniannya tidak hanya dalam seni visual Narreth tergabung dalam grup musik acoustic Lizen dan sebagai personil didalamnya.

Gung Bayu "Kalooong", Karya yang khas dari Gung Bayu menggambarkan corak warna hitam putih dan cendrung dark color yang banyak terinspirasi dari berbagai gaya ilustrasi gothic, biblical, dark, macabre.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline