Lihat ke Halaman Asli

Menyemai Spirit Literasi Sejak Dini

Diperbarui: 1 Desember 2022   08:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. pribadi

Menyemai Spirit Literasi Sejak Dini

Oleh Ngainun Naim

Literasi itu memiliki peranan penting dalam kehidupan. Kemajuan peradaban mana pun selalu berkaitan dengan literasi. Literasi yang kokoh berkorelasi dengan kemajuan. Literasi yang kurang kokoh berarti identik dengan ketidakmajuan.

Ada cukup banyak bukti yang mendukung terhadap korelasi antara kemajuan dengan literasi. Riset-riset juga cukup banyak terkait hal ini. Jika tidak percaya bisa masuk ke mesin pencari semacam googlescholar. Di sana tersedia cukup banyak data yang dibutuhkan.

Jika literasi sedemikian penting, mengapa belum banyak yang menjadikan literasi sebagai kebutuhan? Tampaknya tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Hal ini disebabkan karena jawabannya bisa saja berkaitan dengan banyak aspek yang saling berkait-kelindan.

Realitas yang ada menunjukkan bahwa pentingnya literasi masih sebatas sebagai pengetahuan. Ia belum menjadi kesadaran, apalagi menjadi gerakan. Akibatnya, literasi baru sebatas motto, belum menjadi tindakan.

Aspek yang justru lebih penting adalah melakukan gerakan literasi, sekecil apa pun itu. Ya, literasi bisa dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Bagi kita yang sudah tahu akan arti penting literasi akan menjadikan aktivitas membaca dan menulis dalam tradisi keluarga. Tantangannya memang berat. Zaman digital dengan HP di tangan menjadi tantangan membudidayakan membaca. Namun seandainya dilakukan aneka usaha kreatif, literasi tetap bisa ditumbuhkembangkan.

Sekolah menjadi tempat persemaian literasi yang paling subur. Hal ini disebabkan karena siswa menghabiskan hari-harinya di sekolah. Jika sekolah mendesain literasi sebagai bagian penting dari aktivitas sekolah maka akan memberikan hasil yang menggembirakan.

Literasi itu berkaitan dengan potensi. Potensi jika tidak diidentifikasi, disemai, dan ditumbuhkembangkan akan sebatas sebagai potensi. Sampai kapan pun potensi itu akan menjadi aspek yang pasif. Jika diberdayakan, potensi itu akan bertransformasi menjadi aspek yang aktif. Ia bisa menjadi energi yang menggerakkan dan merubah.

Banyak yang menyadari bahwa dirinya memiliki potensi menulis justru di usia senja. Setelah pensiun, untuk mengisi waktu luang, baru mereka menulis. Salah satu nama yang bisa disebut adalah Laura Ingalls. Buku perdananya baru terbit saat ia berusia 65 tahun. Sungguh sebuah usia yang tidak muda namun menunjukkan gigihnya perjuangan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline