Lihat ke Halaman Asli

19 Tahun Dedikasi KAMMI: Refleksi 48 Jam Ekspedisi Kemanusiaan di Pulau Seram ( bagian 1)

Diperbarui: 4 April 2017   15:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dok. lapangan nasir

Tulisan ini, saya tulis di atas kapal Feri yang menyeberangi lautan Seram; antara Liang Ambon dan Waipirit Seram Bagian Barat. Tulisan pendek ini terinspirasi dalam memperjalankan bantuan kemanusiaan ke Wahai Seram Utara, hanya menyoal soal rasa. Rasa yang terbangun dalam salah satu organisasi mahasiswa muslim yang terbesar di Indonesia. Dalam tulisan ini, coba saya memaknai setiap tahapan yang sedang berjalan dalam tubuh organisasi eks; yang pernah membuat beberapa rezim pemerintahan Indonesia tidak tidur dengan aksi massanya.

KAMMI, sadar atau tidak telah menyatu dalam nadi dan darahku. Hampir satu dekade saya menikmati tamaddun dalam  organisasi ini. Ada sebuah hal besar yang ingin diperjuangkan organisasi yang berlogo Mawar Merah ini. Hal besar itulah yang menggabungkan visiku untuk terikat dalam visinya.

Cerita yang saya tuliskan di atas gelombang, menjadi semangat imajinasiku, bahwa kata Eistein benar. Kata orang terpintar ini,” Kapal itu diciptakan untuk mengarungi luasnya samudra”. Jadi salah, bila kapal itu dibuat, lalu dijadikan pajangan di pelabuhan. Sehingga pelabuhan bak kota-kota dengan lampu kapal-kapal. Bukan. Jika memang begitu, maka tunggulah tanggal, kapal itu akan rapuh dan karam selamanya. Begitulah dengan sebuah organisasi. Seperti pula KAMMI.

Banyak pula, cerita-cerita tentang organisasi Hijau Putih ini dituliskan, baik berupa cerpen, novel, puisi, artikel dsb. Semua hampir saja mirip. Namun, tokoh, latar, alur ceritanya saja yang membedakan. Begitulah tulisan pendek ini dituangkan.

Sambil memandang Pulau Ambon yang megah gemilang, saya menyaksikan ruang rasa yang begitu dahsyat. Seperti kepuasan rasa Sanusi Pane dalam mengungkapkan syairnya yang berjudul Teratai: Kepada Ki. Hajar Dewantara.

Sesuai dengan rasa yang sedang bergejolak, kemanakah arah kesatuan ini ketika usianya yang sudah begitu dewasa? Diawali dengan ungkapan JASMERAH milik Sukarno, saya lagi-lagi mengingatkan kita (baca: kader) agar tidak lepas dari situasi sejarah. Maka, jangan heran, peradaban besar masa lalu tak terlepas dari sejarah. Uraian ini terlihat jelas, asal-muasal penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Al Fatih. Dalam Sirah Sahabat, kita telah kilas balik halaman-halaman buku-buku. Disitu kita menemukan kisah Patriotisme Nabi dan Sahabat dalam Perang Khandak atau Pertempuran Ahzab. Al Quran mengabadikan peristiwa ini menjadi salah satu Surah yang ke-33, Al Ahzab.

Tanpa mengurai kisahnya lebih dalam, saya langsung membawa kita pada perkataan Rasulullah SAW ketika di tanya sahabat. Hai Rasul,” setelah ini, kota apa yang akan kita taklukan?” Jawab Nabi,” Roma dan Konstantinopel. Dan apa yang disampaikan lewat lisan manusia agung ini dibuktikan dengan sikap ksatria muda yang usianya 20-an; Muhammad Al Fatih, 1453. Momen kemenangan penguasa kekhalifahan Ustmani ini menjadi buah bibir sepanjang zaman. Beliau, Al Fatih telah menyadarkan kita, tentang arti sebuah sejarah. Walau sejarah telah usang dimakan usia, namun sejarah itu kaya akan kata-kata. Sejarah itu adalah lintasan tangga zaman. Bilamana satu tangga saja kita lewati, maka kita tidak akan tau sebab mengapa tangga itu terbuat, terjadi dan runtuh.

Sebagai kader pula, jiwa pengembalian terhadap historisasi gerakan harus komprehensif dan mutlak. Tidak cukup, api sejarah organisasi yang lahir 29 Maret 1998 ini didapat dalam daurah-daurah. Melainkan harus ditambah dalam buku-buku, cerita-cerita alumni, dsb. Sebab sama seperti Al Fatih, kepercayaan kuat dan haqqul yakin terhadap sejarah akan membawa kita kemana kapal ini dibawa? Ke Lautan? Ke Samudera? Atau hanya dibibir pantai? Sekedar menjadi pernak-pernik pelabuhan semata?

Tak cukup dengan itu, bahwa KAMMI semakin lama hidup di negara ini. Akan ditempa badai yang sangat kuat hingga ke akar-akarnya. Tentunya, itu tidaklah kita harapkan. Dan saya yakin konsep Persaudaraan adalah Watak Muamalah kami, akan senantiasa terpatri dalam sanubari setiap kader. Bahwa KAMMI akan hadir, kembali hadir hingga takdir NKRI tiada. Bahwa KAMMI akan senantiasa menjadi kebun-kebun indah bagi Indonesia.

O. Lalu kemana takdir kesatuan di usia 19 tahun?

Bagi saya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh kader dan alumni yang telah tersebar di seluruh lini kehidupan. Bahwa cintalah yang menguatkan semua mujadid di bawah payung kesatuan. Biarlah tiada diminati orang. Namun, tetap berbuat untuk negeri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline