Lihat ke Halaman Asli

Naraya Syifah

Perempuan Penggembala Sajak

(Kisah Nyata) Terjebak Rayuan Maut Sang Pujangga

Diperbarui: 2 Juli 2022   19:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(Dokpri)

Pada pelataran pagi semilir sang bayu membelai-belai rambutnya yang kemerahan. Matahari mengintip lewat celah jendela kamarnya memeluk seorang perempuan yang tengah diseka duka. Daun-daun berguguran di halaman rumahnya, bunga-bunga menunda kemekarannya, burung-burung tak terdengar nyaringnya, bahkan kupu-kupu berlarian menuju taman yang lain.

Pemilik pilu itu adalah Hummaira Azahra, dia masih membeku di tempatnya menatap nanar sebuah pesan teks yang masuk ke ponselnya. Ia membiarkan air matanya memburai begitu saja melukai garis wajahnya.

Tulisan itu tampak seperti sayatan untuknya. Bodohnya ia masih terus memandanginya seakan menanti bahwa ucapan selamat pagi dan potongan puisi rindu akan kembali diterimanya pagi ini.

Satu menit ... dua menit ... hingga berjam-jam lamanya ia menunggu, kenapa bingkisan puisi itu belum juga ia terima? Apakah terjadi sesuatu di jalan? Apa ia lupa jalan menuju rumahnya?
Dia memeluk kedua lututnya yang bergetar dan menjambak rambutnya frustrasi dengan hati membiru.

"Apa puisimu tak lagi aku?"

"Benarkah?"

"Apa kita sungguh berakhir?"

Brang!

Benda pipih panjang itu ia banting dan menggelinting ke bawah kolong ranjang. Ia menjatuhkan dirinya ke atas kasur lalu menutup wajahnya dengan bantal lalu menangis. Isak tangisnya mulai kencang saat kenangan usang itu kembali berputar-putar di kepalanya yang berisik.

Empat tahun yang lalu ....

Seorang lelaki jangkung bermata elang, pemilik tubuh profosional namun dengan gayanya yang sederhana menghampiri Zahra yang saat itu tengah terduduk sendirian di kursinya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline