Lihat ke Halaman Asli

Mudik, Fenomena Sosial Indonesia yang Mendidik dan Menggelitik

Diperbarui: 21 Mei 2018   21:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Fenomena Mudik

Tulisan ini sengaja dibuat untuk merefleksikan kondisi kita sebagai anak rantau yang selalu mengingat romantisme setiap kali pulang ke kampung halaman. Mudikmerupakan fenomena rutin sebagai bagian tidak terpisahkan dalam budaya akar rumput yang terus menjelma menjadi keharusan. Di Indonesia istilah mudik adalah hal lumrah yang menggambarkan keharmonisan antara mereka yang menginginkan perjumpaan pada sanak keluarga dan handa taulan yang sekian lama tidak saling dipertemukan.

Titik balik para pejuang di perantauan untuk saling memberi kabar pada orang-orang terkhusus di hari yang fitri kelak. Berawal dari niatan dan harapan tinggi untuk melaksanakan silaturahim secara langsung menjadi motivasi tersendiri agar mudik tersebut menjadi tuntutan meskipun tidak pernah ada paksaan. Nampaknya, mudik dapat mendorong banyak orang untuk berbondong-bondong tanpa memperhitungkan untung-rugi yang dilaluinya.

Bagaimana tidak, mudik bagi sebagian kecil dari keseluruhan pelakunya secara umum boleh jadi menjadi suatu hal langka (tidak selalu dilakukan) yang sudah pasti menguras biaya dan tenaga. Kalkulasi pengeluaran mudik dan apa keuntungan yang akan didapatkan ketika usai euforia mudik tersebut? Tentu, hal ini adalah pemikiran konyol yang tidak berlebihan jika dikaitkan dengan konsepsi masyarakat urban. Namun, realistis bukan?

Mudik dan Kebingungan

BeRbicara lebih dalam mengenai mudik tentu takkan terlepas dari inti sugesti pikiran diri sendiri mengenai makna menyambung sillaturahim. Tetapi, hingga kalimat ini muncul justru muncul kebingungan lanjutan terhadap fenomena yang ada. Akankah mudik hanya dimaknai sebagai mobilisasi massa semata?

Siapakah pelaku mudik yang paling pantas merasakan kebermanfaatan mudik? Bagaimana kondisi paling ideal yang menjadikan budaya mudik menjadi berisi kesan dan pesan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak semuanya dapat penulis berikan jawaban karena penulis yakin keluasan pemikiran tidak akan ada pembatasan pada gagasan-gagasan yang dapat kalian tafsirkan.

Baik, membahas mudik jika hanya dilihat sebatas pada unsur grudag-grudug sekumpulan manusia dalam jumlah besar, tidak akan menghasilkan apapun. Seharusnya mudik dijadikan sebagai tolak ukur berkelanjutan atas berbagai hal.

1. Pertama, mudikmu naik apa? Lewat mana? Seberapa lama? Mudik erat kaitannya dengan moda transportasi yang kalian gunakan untuk melakukan perpindahan tempat menuju suatu tujuan.

Pernahkah terlintas dalam pikiran untuk sekadar membandingkan kuantitas dan kualitas moda transportasi tiap tahunnya? Jika kalian mudik menggunakan alat transportasi komersial, misalnya: kereta, bus, pesawat, kapal, dan lainnya pasti seharusnya telah ada perkembangan daripada tahun-tahun sebelumnya.

Apakah dari beberapa pilihan tersebut sudah ada pembenahan pada kualitas pelayanan, mahal-murahnya biaya yang dikeluarkan, kuantitas masing-masing moda transportasi, hingga rencana jangka panjang atas komparasi dengan variabel tertentu sebagai tolok ukur nyata atas kondisi transportasi kita saat ini. Lalu, setelah dipilih alat transportasi apa yang kalian gunakan. Pernahkah terlintas dalam pikiran untuk sekadar membandingkan luas, panjang, dan lebar jalan nasional tiap tahunnya? Kemacetan menjadi momok biasa yang dapat dibenarkan sebagai topik lempar-lemparan berbagai pihak terkait.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline