Lihat ke Halaman Asli

#FightStigma 2 : Autisme

Diperbarui: 8 Agustus 2015   20:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pernah menyaksikan salah satu cerita pendek dalam film Rectoverso yang diangkat dari novel karya Dewi Lestari? Satu dari lima cerita di dalamnya berkisah tentang cinta seorang dewasa-luar biasa terhadap seorang mahasiswi yang nge-kost di rumah ibunya. Sangat menyentuh. Tapi, kali ini saya tidak sedang berbagi mengenai jajaran film mengharukan, melainkan mengenai satu gangguan yang belakangan ini kerap jadi istilah dalam candaan orang banyak. Autisme. Cukup menyedihkan bahwa pada Ramadhan lalu, di salah satu stasiun televisi swasta, saat seorang Ustadz sedang berdakwah, mungkin beliau tidak ada maksud untuk melakukannya, beliau berujar, “Karena sibuk dengan ponsel, sibuk dengan gadget akhirnya autis sendiri.”

Autisme.

Dulu, tidak banyak masyarakat umum yang tahu mengenai gangguan perkembangan yang satu ini. Sehingga, stigma kembali tumbuh menjamur bahkan hingga dijadikan sebagai lelucon sehari-hari. Mungkin sama seperti Ustadz barusan yang melakukannya tanpa maksud sama sekali. Tapi, tahukah Anda bahwa Autisme bukanlah untuk bahan ejekan atau candaan? Apa yang membuat Autisme tidak bisa dianggap sebagai hal main-main?

 

Gangguan Perkembangan

Pervasive Developmental Disorders merupakan gangguan-gangguan kerusakan atau kelemahan (impairment) yang sifatnya parah dan selamanya pada beberapa area perkembangan seperti interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku, minat, serta aktivitas sehari-hari (Nolen, 2011). Salah satu gangguan perkembangan yang paling banyak menarik perhatian riset-riset adalah Autisme. Apakah autisme sama dengan keterbelakangan mental? Tidak. Beberapa anak yang mengalami autisme memang menunjukkan keterbelakangan mental dengan level ringan sampai berat, tapi menariknya, bahkan adapula anak autisme yang justru memiliki kelebihan luar biasa di bidang-bidang tertentu, Savant Autisme.

[caption caption="Beberapa Orang Autisme Memiliki Kemampuan Luar Biasa di Bidang Lain, Musik Misalnya."][/caption]

 

Autisme

Pada umumnya, mereka yang mengalami autisme akan mengalami penurunan pada tiga area. Satu, interaksi sosial. Anak autisme tidak dapat merespon dan berinteraksi dengan keluarganya sebagaimana mestinya. Mereka tidak tersenyum, tidak melakukan kontak mata saat dicandai oleh ayah dan ibunya, dan ketika mereka tumbuh lebih besar, mereka tidak memiliki ketertarikan untuk bermain bersama anak lain. Mereka juga tidak bisa merespon emosi orang lain.

Kedua, komunikasi. Lima puluh persen anak autisme tidak mengembangkan kemampuan bicaranya dengan baik. Jika pun iya, bahasa yang sudah mereka miliki, tidak dapat mereka gunakan dengan baik. Contohnya, anak tidak bisa merespon kalimat orang tuanya dengan jawabannya sendiri, anak hanya menggaungkan ulang kalimat orang tuanya. (echolalia).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline