Lihat ke Halaman Asli

Musa Hasyim

TERVERIFIKASI

M Musa Hasyim

Risma Marah-marah Soal Mobil PCR, Pantaskah Menyalahkan Khofifah?

Diperbarui: 30 Mei 2020   12:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Risma dengan Khofifah, sumber: tribunnews.com

Baru-baru ini Walikota Surabaya, Tri Rismaharini berbicara dengan nada tinggi melalui sambungan telepon pada hari Jumat (29/5).  Sampai tagar Risma trending di Twitter.

Risma mengaku kecewa karena mobil PCR permintaanya tidak dikabulkan sesegera mungkin dan malah dibawa ke luar Surabaya yakni ke Lamongan dan Tulungangung.

Seperti kita ketahui bersama, Surabaya adalah zona merah dan menjadi kota paling banyak terinfeksi Covid-19 di Jawa Timur. Maka sudah lumrah jika dibutuhkan banyak tes swab untuk menghindari kemungkinan gelombang pasien Covid-19 yang lebih besar.

Di tambah lagi, banyak yang menduga bahwa Surabaya bisa saja menjadi seperti Wuhan andai tidak ditanggani dengan baik. Di tengah permasalahan itu, apakah pantas seorang pemimpin marah-marah?

Tri Rismaharini bukan sekali ini marah-marah. Barangkali sudah menjadi ciri khasnya, selalu kalau ada berita tentang Surabaya, Tri Rismaharini kedapatan marah-marah, bukan ngamuk yah.

Marah-marah ini bisa diartikan dengan dua hal, marah sebagai tanda tegas dan marah karena bawaan sifat sejak kecil. Sebagai seorang pemimpin, marah selalu diidentikkan dengan sikap tegas karena jika pemimpinnya lembek maka warga akan menyepelekan aturan yang ada.

Tapi marahnya Tri Rismaharini kali ini mengundang spekulasi negatif, di mana diduga Khofifah sebagai gubernur Jatim dianggap ingin menjatuhkan pamor dan membunuh karakter Tri Rismaharini.

Ada saja yang berpikiran bahwa Khofifah sengaja mengirim mobil PCR ke luar Surabaya padahal Surabaya yang paling banyak terjangkit Covid-19. Tak sedikit yang beranggapan bahwa Khofifah sumringah melihat amburadulnya penangganan Covid-19 di Surabaya.

Dari sinilah muncul dua kubu, kubu pertama yang membenarkan Risma dan kubu kedua yang membela Khofifah. Masing-masing keduanya memiliki argumennya masing-masing.

Kubu yang membenarkan Risma berpendapat bahwa Risma sudah mengirimkan surat permohonan mobil PCR kepada BNPB Jatim. Seharusnya mobil tersebut segera dikirimkan melihat angka Covid-19 di Surabaya yang terus melonjak naik dan lebih tinggi ketimbang kota-kota atau kabupaten lainnya di Jawa Timur.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline