Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Leksono

Semua karya yang tercipta dibantuan oleh secangkir teh.

Obrolan dengan Sahabat Setelah Melewati Fase Kegagalan

Diperbarui: 30 November 2019   18:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi obrolan dengan sahabat (unsplash/Bewakoof.com Official)

Dewasa ini kita sering melihat orang hanya melihat kesuksesan orang lain tanpa sekali pun melihat apa yang orang tersebut sudah korbankan demi kesuksesan yang sudah diraihnya.

Setiap orang pernah memiliki kegagalannya masing-masing dan juga punya jalan menuju puncak kesuksesan yang berbeda pula. Jangan samakan satu individu dengan individu lainnya. 

Kita lahir saja dari embrio yang berbeda, dilahirkan di tempat berbeda, jam berbeda, dan rahim yang berbeda, mana bisa nasib akan dibuat sama. 

Kita berbeda untuk membedakan satu sama lain. Bayangkan kalau semua diciptakan sama, contoh: sama di wajah, pasti bingungkan mana pacar, mana mantan.

Kita hidup hanya perlu action, berani dalam melangkah, dan mengambil keputusan. Terkadang Tuhan memberikan ujian bertubi-tubi kepada kita, hanya untuk mengetahui seberapa besar dan lapang hati yang kita punya. 

Ikhlas menerima cobaan dan kegagalan lalu bangkit untuk mencoba lagi atau gagal lalu mati dan menyalahkan keadaan bahkan menyalahkan takdir Tuhannya sendiri?

Tuhan juga hanya ingin melihat seberapa kuat mental kita, bukan niatnya menjatuhkan kita. Bayangkan kalau kalian menyerah, lalu Tuhan kalian bilang seperti ini "Manusia apaan ini? Lemah! Pengecut! Saya enggak pernah bikin manusia yang kayak begini", rasanya lebih sakit daripada dimaki oleh sahabat kita sendiri. Kita diciptakan itu sebagai pemenang, kalian lahir juga karena berhasil bersaing dengan jutaan sperma lainnya.

Persahabatan itu adalah sesuatu yang suci, dia dapat menguatkan satu sama lain (Sumber gambar: liputan6.com)

Baru dikasih ujian dikit sudah merengek, sudah mundur, sudah merasa paling berat ujiannya dibanding orang lain, sudah enggak mau bangkit dan nyoba lagi.

Kenapa kita mengeluh? Jawabannya "terlalu melihat kesuksesan orang lain". Hidup enggak selalu harus mendengak ke atas, ada saatnya kita menunduk melihat orang yang kurang beruntung dari kita.

Hidup jangan terus melihat kesuksesan orang lain atau mengukur tingkat kesuksesan orang lain. Seharusnya kita punya ukuran sendiri untuk sukses, lalu bahagia. Yang dilihat itu, sudah sejauh mana perjuangan kita untuk mencapai 'kesuksesan dalam kriteria kita' bukan kriteria orang. Lihat, sudah meningkat belum? Atau masih di situ-situ saja sejak tahun lalu. 

Saat kita blangsat, gagal, atau miskin, percayalah tidak ada satu orang pun yang mau membantu, bahkan orang yang dulu selalu bersama kita setiap waktu. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline