Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Anwarudin

Sangat antusias akan hal-hal baru, khususnya yang berhubungan dengan peningkatan pembelajaran jenjang pendidikan dasar.

Pendekatan Behaviorisme dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar

Diperbarui: 19 Mei 2020   23:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

Pendekatan Behaviorisme dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan behaviorisme (perilaku) menekankan pengalaman peserta didik yang dapat diamati, dan bukan oleh proses mental. Banyak cara dapat dilakukan untuk menerapkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan behaviorisme. Berikut ini saya mencoba menyampaikan penerapan pendekatan behaviorisme dalam pembelajaran di sekolah dasar. 

Pada contoh pembelajaran dengan menggunakan pendekatan behaviorisme ini, saya mencoba memaparkan sesuai dengan yang sudah saya alami (laksanakan) pembelajaran pada jenjang sekolah dasar kelas 4 muatan pembelajaran Matematika. Matei yang dipelajari adalah materi mengenal dan mengukur besar derajat sudut.

Pembelajaran saya awali dengan menjelaskan dengan disertai alat peraga busur derajat dari kayu. Penjelasan mengenai komponen-komponen busur derajat dan teknik mengukur besar sudut dibantu dengan dukungan penggunaan bahan ajar berbasis teknologi yakni dengan menampilkan presentasi (ppt). 

File ppt memuat penjelasan tentang komponen-komponen busur derajat dan cara pengukuran sudut, hal ini merupakan pemberian stimulus yang saya harapkan respon dari siswa. Respon yang dimaksud adalah siswa mulai memperlihatkan keinginan untuk mengenal lebih lanjut berupa pertanyaan-pertanyaan terkait komponen busur derajat dan cara melakukan pengukuran sudut dengan mempergunakan busur derajat.

dokpri

Selanjutnya saya sajikan beberapa perpotongan garis di papan tulis, dan secara bergantian siswa maju untuk mencoba mengukur sudutnya. Pada sesi ini, respon atas stimulus (penjelasan) sebelumnya terkait pengenalan komponen busur derajat dan pengukuran sudut mulai ditampakkan secara nyata. Sebagian besar siswa mampu menunjukkan respon dengan baik (mampu mengukur besar sudut dengan benar).

Selanjutnya, saya bentuk kelompok-kelompok kecil (3 siswa per kelompok) dan saya berikan tugas lapangan berupa mengukur besar sudut pada benda-benda di lingkungan sekolah. Format yang harus diselesaikan (diisi) oleh siswa adalah berisi obyek yang diukur dan hasil pengukuran sudut (batasan yang saya berlakukan adalah jika yang diukur menunjukkan besar 90 derajat, maka tidak boleh dimasukkan ke dalam format isian). 

Pada kegiatan ini saya menginginkan untuk memberikan pengalaman kepada siswa sehingga dengan mudah saya amati perkembangan respon (pengetahuan) siswa terkait pengukuran sudut. Secara antusias semua siswa melaksanakan kegiatan ini dan dengan mudah saya pantau (amati) proses pemberian pengalaman pembelajaran.

dokpri

Pada tahap selanjutnya, kembali masuk kelas dan saya berikan penguatan mengenai pengukuran sudut. Dilanjutkan dengan presentasi sederhana bukan menjelaskan hasil-hasil pengukurannya, namun saya minta mereka menceritakan proses pengukuran sudut di lingkungan sekolah. Secara bergantian beberapa siswa ke depan kelas menyampaikan proses yang terjadi dalam kelompoknya.

dokpri

Banyak hal yang bisa saya analisa dari cerita siswa. Inti dari presentasi siswa adalah bahwa mereka telah mengalami proses pengalaman belajar yang berbeda satu dengan lainnya. Sampai akhirnya ada yang menanyakan mengapa obyek yang besar sudutnya 90 derajat tidak boleh dimasukkan ke dalam format, dan pertanyaan ini yang saya tunggu-tunggu.

Dengan memberikan penjelasan singkat mengenai ciri-ciri sudut 90 derajat yang juga bisa disebut sudut siku-siku dan begitu banyak obyek atau benda dengan besar sudutnya 90 derajat, pada tahap ini saya memberikan penguatan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline