Lihat ke Halaman Asli

M. Nahrowi

Penulis | Pengamat Bisnis Digital | Konsultan

Entrepreneur Series: Para Owner Bisnis Perlu Membaca Ini

Diperbarui: 3 November 2022   03:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Entrepreneur. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Jcomp

Melanjutkan series yang sebelumnya, hanya saja kali ini berbeda serinya yaitu tentang cerita lika liku pemilik bisnis langsung dari para pemiliknya [tanpa ditutupi]. Bisnis selalu punya cara sendiri untuk bercerita, khususnya mereka yang bergerak dari bisnis kecil, menengah hingga ke level lebih besar, saya menuliskan khusus sisi dimana mereka yang sedang merintis hingga masuk ke tahap bisnis yang sedang membentuk nama mereka. 

Memang sebenarnya ada yang bisa dibahas dari sisi lain, misalnya bagaimana perusahaan korprasi mengelola bisnis mereka, skala besar dan lebih serius. Namun, bapak Ciputra Entrepreneur sekalipun menulis dalam biografinya, bahwa perjalanan besar dimulai dari langkah kecil, orang-orang yang sudah mengetahui nama-nama bisnis itu, tidak semua tahu bagaimana proses dibalik pembentukan brand itu, hal itulah yang perlu diangkat kembali lebih dalam. 

Hari ini, salah seorang business owner restoran mengabari bahwa mereka ingin menjual bisnis mereka, karena tidak tahu mereka apakah ingin melanjutkan apa tidak. 

Saya memahami, bagi mereka yang tahu bagaimana posisi business owner/founder mereka tentu terus berpikir atau mungkin lebih sering berpikir daripada yang lainnya. Termasuk berpikir mereka membiayai utilitas, hingga semua stakeholder mereka. Tidak semua hal akan diceritakan, tapi saya mencoba mendengar bagaimana perjalan mereka sejak pandemi hingga sekarang. 

Lalu saya bilang, kita coba sekali lagi. jika ini gagal silahkan, saya mencoba memberi sebuah hal, bukan semangat namun lebih ke sudut pandang lain apa yang membuat bisnis mereka tidak menarik, ini mungkin sebenarnya tampak lebih sulit karena kita perlu memposisikan diri sebagai pendengar tapi juga perlu punya solusi untuk mereka dari sisi praktis, tentu tidak semua solusi itu baik sehingga ini bisa jadi bahan diskusi bisa saran atau masukan yang menghasilkan ide-ide baru nantinya. Hampir beberapa percakapan inti dari permasalahan mereka adalah, belum bisa menjelaskan keunikan bisnis mereka dibanding yang lainnya, jika melihat dari kasus sejenis ini, saya jadi teringat salah satu kalimat dalam buku Simon Sinek yang menyatakan; salah satu masalah utama dalam bisnis adalah tentang menjelaskan dirinya kepada pelanggan mereka, sebanyak apapun mereka punya sesuatu tapi jika mereka tidak berhasil menemukan siapa konsumen mereka akan gagal. 

Memang hampir kebanyakan business owner, memiliki natural mindset egosentris karena memang mereka bermindset "memiliki" yang artinya semua hal yang ada mereka perlu atur sesuai pikiran dan keinginan mereka, pertanyaanya adalah "apakah pikiran konsumen mereka sama dengan business owner tersebut?" kan tidak juga, beruntunglah jika sama, tapi jika tidak? bisnis akan tetap menjadi pemilik yang punya, bukan pemilik konsumen. 

Saya coba lanjutkan cerita tadi, lalu business owner tersebut mau mencoba sekali lagi dan berkata "Bismillah" kita coba lagi, kami mencoba melihat dari sisi luar, apa yang membuatnya tidak menarik, satu hal yang kami temui adalah "mereka tidak mencoba hadir dalam media online" maksutnya, mereka ada lokasi fisiknya, namun mereka mungkin belum memahami, bahwa ada banyak orang sedang mencari sesuatu di internet setiap detiknya, jika mereka tidak ada di internet mereka akan tertinggal. 

Adapun yang mereka tawarkan adalah tetangga mereka diarea lokasi bisnis, ya tentu semua tetangga mereka sudah tahu mereka punya restoran, tapi mereka lupa apakah iya setiap hari tetangga mereka membeli makanan direstoran itu? 

Mungkin mereka punya banyak saudara yang datang untuk makan bersama direstoran itu, ya benar. Pertanyaanya, apakah akhirnya saudara yang menjadi pelanggan kita dan apakah setiap waktu mereka datang? tentu tidak.

Disinilah pentingnya "Customer Acquisition" apa itu? belajar untuk menemukan konsumen kita selain dari yang kita kenal, ya konsumen baru, mereka akan lebih objektif dalam menilai, apakah masakan kita enak? apakah mereka punya kritik? apakah tempatnya nyaman dan lain sebagainya. Terlebih yang penting adalah apa yang value kita punyai? apakah tempatnya? apakah masakannya? atau hal lain yang menjadikan "alasan mereka datang". 

Seperti pada tulisan saya di medium, tentu bagi yang sudah membacanya akan ingat, bahwa artikel yang saya tulis saat starbucks merilis versi minuman kemasan di gerai minimarket, dan sekarang kita bisa cek starbucks versi minuman itu sudah TIDAK ADA. kenapa? 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline