Lihat ke Halaman Asli

Mim Yudiarto

TERVERIFIKASI

buruh proletar

Seperti Keyakinan Air terhadap Api

Diperbarui: 16 Juli 2018   10:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Tunggulah sebentar.  Tunggu di tempat kita biasa saling berkabar.  Duduk di serambi muka sambil menulisi udara dengan kata-kata; kalapagi ingin bertukar wajah dengan senja.  Mari kita bertukar hati sembari mengkonfigurasi frasa mana yang paling tepat untuk menyampaikan cinta.

Kala itu, kau tersenyum maklum.  Barangkali kau menganggapku gila.  Padahal tentu saja aku tidak gila.  Aku hanya sedikit kehilangan kewarasan. Terbawa arus kencang udara malam yang menampar muka.  Karena melihatmu saja aku sudah cukup bahagia.

Kemudian kita sama-sama tertawa.  Mentertawakan keinginan yang bertingkah seperti Mimosa pudica.  Tersipu pura-pura.  Padahal tanpa disadari, berbagai macam bunga bermekaran di semua lubang pori-pori. 

Ingatkah waktu itu kau menyodorkan teka teki paling pelik.  Kau bilang pilih mana kamu antara angin yang berisik atau pasir berbisik?  Saat itu aku tak sanggup menjawabnya.  Karena aku pikir angin yang berisik adalah badai.  Aku tak mau berada di dalamnya.  Sementara pasir berbisik adalah suara yang tak kedengaran.  Aku tak mau berjalan dalam ketidakpastian.

Baiklah.  Sebaiknya sekarang kita sama-sama berikrar.  Mumpung matahari sudah cukup membakar.  Kesinikan tanganmu.  Aku ingin merajahnya dengan gambar sayap kupu-kupu.  Bukan elang.  Sebab kepakan sayapnya terlalu kencang.  Aku tak ingin momen sakral ini menghilang.

Ucapkan ini; aku mencintai karena aku meyakini.  Seperti keyakinan air terhadap api.  Memadamkan percikan sunyi tapi sekaligus mencegahnya menghanguskan hati.

Jakarta, 16 Juli 2018




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline