Lihat ke Halaman Asli

Mim Yudiarto

TERVERIFIKASI

buruh proletar

Mengikat Kenangan Menjadi Nyata

Diperbarui: 21 Agustus 2017   11:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Suatu pagi

Di suatu tempat

Bersama sesuatu yang disebut kenangan....

Aku meniup ujung selendangmu yang setipis kulit ari.  Sekuat tenaga.  Sebab angin juga melakukan hal yang sama.  Dari arah yang berbeda.  Aku harus bertahan.  Kalau tidak, aku sadar angin akan mengambilmu dari aku.

Kau tersenyum

Semanis tebu

Tapi salah tingkah....

Kau memegang ujung telingaku yang memerah terbakar senja.  Merasakan debar jantung ternyata sampai di sana.  Kau menudingkan telunjukmu ke arah pantai yang landai.  Katamu, dengarkan pasir sedang berbisik.  Ramai.  Mereka sedang mengumpulkan ombak.  Ada pengumuman tentang gelombang.  Datang, menakutkan dan garang.

Aku mengikat hati agar tak terjatuh

Ah, kau membuatku takut

Takut kau akan menerima bujukan pasir untuk ikut bersama gelombang

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline