Lihat ke Halaman Asli

miftachul huda

rajin pangkal pandir

4 Panduan Penting Meliput Kecelakaan Sriwijaya Air dan Bagaimana Berempati

Diperbarui: 13 Januari 2021   19:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Aji.or.id

 "Liputan bencana seharusnya mengutamakan orang hidup untuk membangkitkan semangat mereka, bukan fokus pada kematian, meski itu tetap penting," Penulis buku Jurnalisme Bencana, Ahmad Arif. (makassarterkini.id)

 

Kerja-kerja jurnalistik dua hari ini banyak ternoda dengan berita-berita yang tidak layak disebut produk jurnalistik. Berita-berita nir-empati seperti soal ramalan, gaji pilot, hingga firasat para korban kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 seketika menjadi bahan bakar para netizen melayangkan kritiknya atas produk berita hari ini.

Sebagai orang yang pernah berkecimpung dalam dunia jurnalistik termasuk organisasi di dalamnya,-alih-alih harus bersedih saya lebih memilih menertawakan betapa industri media ini telah membunuh semua, termasuk sensivitas bencana. Industri lah yang membuat jurnalis-jurnalisnya menjadi robot algoritma: klik. 

Dan perusahaan sebagai representasi dari industri menikmatinya dan terus menambang uang darinya, dan dalam titik ini jurnalis adalah korbannya. Korban bagaimana harus terus mengeksploitasi informasi, dan celakanya kadang tidak pada porsinya. 

Saya juga memaklumi kemarahan netizen, karena bagaimana pun media dengan segala 'keistimewaan' yang melekat di dalamnya adalah wakil publik, dia datang untuk kepentingan publik, sangat wajar jika perwakilannya ini tak sesuai yang diharapkan publik, maka publik berhak marah.

Dalam kecelakaan pesawat ini, media kita sejatinya tidak kurang-kurang selalu memproduksi berita-berita informatif dan menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial, namun demikian media juga tidak bisa melepas tanggung jawabnya ketika ada satu, dua, tiga, empat, lima media yang menampilkan berita-berita nir-empati dan eksploitatif keluarga korban seperti deretan berita yang menyulut kemarahan warganet.  

steemit.com

Sikap kritis publik sangat diperlukan untuk menjadi pagar bagi media, agar media tidak semakin barbar bermain-main dengan adsense dengan menerapkan logika pasar, menggoreng judul, main-main dengan Keyword, tanpa memikirkan efek buruk yang diakibatkan dari tulisan itu.

Dua hari ranah dunia maya berisik dengan kegelisahan-kegelisahan itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia merespon cepat kegelisahan ini, AJI--sebuah organisasi yang menurut saya terbaik dalam profesi jurnalistik---mengeluarkan statemen dan panduan bagaimana meliput dan memberitakan kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ-182, dan saya kira ini juga berlaku untuk meliput bencana lainnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline