Lihat ke Halaman Asli

Merza Gamal

TERVERIFIKASI

Pensiunan Gaul Banyak Acara

Jejak Langkah 2 Ulama Penggerak Indonesia; Memahami Perbedaan Menjunjung Persamaan

Diperbarui: 8 Februari 2023   10:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Image: Jejak Langkah 2 Ulama Penggerak Indonesia; Memahami Perbedaan Menjunjung Persamaan (by Merza Gamal)

Redaksi Kompasiana menawarkan Topik Pilihan (topil) "REFLEKSI 100 TAHUN NU DAN TANTANGAN KE DEPAN" kepada para Kompasianer untuk membagikan opini, cerita, serta harapan terkait hal topil tersebut di Kompasiana. Kakek Merza pun tertarik dengan topil tersebut, dan dengan segala keterbatasan ilmu di antara Kompasianer yang hebat-hebat dan diakui keberadaannya oleh sidang Admin Kompasiana yang terhormat.

Kakek Merza tertarik dengan eksistensi NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah (yang mencapai usia 1 abad pada tahun 2012 lalu) yang telah menyatukan Umat Islam dan Bangsa Indonesia dengan memahami perbedaan menjunjung persamaan.

NU (Nahdlatul Ulama) didirikan pada 16 Rajab 1344 Hijriah atau bertepatan dengan 31 Januari 1926 Masehi di Surabaya. NU secara tahun hijriah sudah berusia 1 abad (100 tahun), dan secara kalender Masehi baru akan mencapai usia 1 abad pada 31 Januari 2026 atau 3 tahun yang akan datang.

NU memiliki sejarah yang panjang dan pengaruh kuat karena memiliki banyak pengikut di Indonesia. NU terbentuk atas nama kaum tradisionalis dalam menanggapi berbagai fenomena di dunia Islam yang ada di dalam maupun di luar negeri.

Titik awal sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama adalah dari pembentukan Komite Hijaz yang dibentuk oleh K.H Hasyim Asy'ari untuk dikirimkan ke Muktamar Dunia Islam yang bertujuan untuk melindungi kebebasan bermazhab dari kebijakan Raja Arab Saudi tentang mazhab. Pada masa itu, Raja Arab Saudi dari Dinasti Saud ingin membongkar makam Nabi Muhammad SAW karena makam tersebut menjadi tujuan ziarah banyak umat Muslim. Raja Arab Saudi waktu itu menganggap ziarah tersebut sebagai bid'ah. Raja Arab juga menerapkan kebijakan untuk menolak praktik mazhab dalam agama Islam, dan hanya menginginkan hanya mazhab Wahabi yang digunakan sebagai mazhab resmi kerajaan.

Rencana dari Raja Saud tersebut akhirnya di bawa ke Muktamar 'Alam Islami atau Muktamar Dunia Islam. Kebijakan Raja Arab Saudi ketika itu menjadi masalah karena ulama pesantren menganggap hal tersebut sebagai upaya memberangus tradisi dan budaya dalam Islam yang selama ini telah berkembang. Rencana Raja Saud tersebut dianggap dapat menjadi menjadi ancaman bagi peradaban Islam itu sendiri.

Para Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) adalah orang-orang hebat yang terdiri dari tiga orang tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah terbentuknya NU. Ketiga orang tersebut adalah K.H Hasyim Asy'ari, K.H Abdul Wahab Chasbullah, dan K.H Bisri Syansuri. Pada awal pendiriannya, K.H Hasyim Asy'ari ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi pertama Nahdlatul Ulama atau disebut juga sebagai Rais Akbar. Kemudian, disusul oleh K.H Abdul Wahab sebagai Rais Aam Kedua, dan K.H Bisri Syansuri sebagai Rais Aam ketiga.

Image: Memahami perbedaan menjunjung persamaan (by Merza Gamal)

Sebelum NU resmi berdiri, di Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 Masehi telah lahir sebuah organisasi Islam lainnya, yaitu Muhammadiyah. Muhammadiyah merupakan sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta. Kata "Muhammadiyah" secara bahasa berarti "pengikut Nabi Muhammad" yang dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad.

Kisah pendirian Muhammadiyah berawal ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada tahun 1903, mulai menyemaikan benih pembaruan di Indonesia yang kala itu masih dikuasai oleh Pemerintahan Kolonial Belanda. Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline