Lihat ke Halaman Asli

Merza Gamal

TERVERIFIKASI

Pensiunan Gaul Banyak Acara

Apa Pun yang Terjadi, Indonesia Tanah Airku (Bagian ke-3)

Diperbarui: 23 November 2022   15:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Image: Apa Pun yang Terjadi, Indonesia Tanah Airku (dokpri)

Cerita-cerita Gustav membuatku semakin penasaran dan ingin segera bercerita pada Ibu. Jumat sore selepas jam kantor aku pun menuju Kantor Telepon. Kepada Gustav kusampaikan, aku ada keperluan, dia jangan ikut aku kali ini. Gustav kuminta ke hotel saja, jika memang mau menungguku makan malam bersama, seperti biasa sejak aku menyatakan padanya untuk menganggap aku saudara kembarnya yang hilang hingga saudara kembarnya yang sesungguhnya ketemu kembali.

Ketika telepon tersambung, terdengar suara mbok Ijah. "Ibu sedang di ruang praktek Aden Morgan. Mbok pangilin ya, moga ndak lagi periksa pasien." Ibu selain praktek di rumah sakit, sore hari juga praktek di pavilun rumah.

Tak lama, terdengar suara Ibu, "Morgan, Ibu kangen sama kamu. Apakabar Nak?" Suara Ibu terlihat beda dari biasanya, tidak seperti jika kami sedang berpisah. Ada nada sangat rindu di sana. Setelah basa-basi menanyakan kabar, tentang makanku selama di Singapore, tentang kesehatan dan lain sebagainya seperti pembicaraan umum seorang ibu dengan anaknya yang sedang kangen-kangenan, aku pun membuka cerita Gustav.

Aku ceritakan pada Ibu semua yang yang diceritakan Gustav tentang dia dan saudara kembarnya yang hilang setelah perceraian ibu dan ayah mereka. Selama aku bercerita, Ibu banyak diam dan terdengar helaan-helaan nafas panjang tanpa interupsi sepata kata pun hingga aku menyelesaikan ceritaku.

"Morgan, cerita Gustav sangat berbeda dengan kehidupan kita. Mungkin banyak kebetulan-kebetulan yang sama antara Ayahnya Gustav dengan Ayahmu. Tetapi mereka berbeda, engkau anak Ibu, dia anak ibunya..." ibu sejenak terhenti, dan kembali menghela nafas panjang.

"Kamu anakku Morgan... Tidak ada seorangpun yang dapat mengambilmu dariku. Engkau satu-satunya milik Ibu yang berharga setelah Ibu seorang diri tanpa Kakek dan Nenekmu sejak Ibu kuliah di Jerman, dan Ayahmu pun telah pergi meninggalkan kita saat engkau masih kecil..." dan sayup-sayup terdengar Ibu tidak bisa menahan tangisnya.

"Ibu, Morgan tak akan meninggalkanmu, walau Gustav dan ibunya yakin aku saudara kembarnya yang hilang. Morgan yakin, Morgan anak Ibu dan Morgan sangat menyayangi Ibu," ujarku menenangkan Ibu dan sekaligus menenangkan diriku. Dalam hatiku yang bertanya, mengapa Ibu takut kehilangan aku? Bukankah aku anaknya? Apakah sebagai laki-laki yang sudah dewasa, aku akan meninggalkan ibuku begitu saja, karena ada orang yang  mengaku aku adalah saudara kembarnya? Dan ada seorang Ibu, di benua lain yang merasa bahwa aku adalah anaknya yang hilang?

Terdengar suara asisten praktek Ibu yang memanggil Ibu karena banyak pasien telah menunggu Ibu. Telepon pun kami tutup, dan Ibu pun berpesan untuk lebih sering meneleponnya.

Dari kantor telepon, aku singgah ke mart yang ada satu gedung dengan kantor telepon tersebut untuk membeli beberapa kebutuhan harianku yang habis di kamar hotel. Saat mengambil barang-barang yang kubutuhkan, dan dalam perjalanan pulang ke hotel, pikiranku menerawang. Mengapa Ibu, menangis seperti di telepon tadi?

Boleh dikata, aku hampir tak pernah melihat Ibu menangis, apalagi tersedu-sedu sebagaimana yang kudengar di telepon tadi dan lima hari yang lalu ketika aku bercerita pertemuan pertamaku dengan Gustav.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline