Lihat ke Halaman Asli

‘Bahaya’ Hasil Pemilu Amerika 2016

Diperbarui: 24 September 2016   07:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Kurang dari dua bulan lagi, atau tepatnya pada hari Selasa, 8 November 2016 akan diadakan pilpres empat tahunan Amerika yang ke-58. Di antara semua nama-nama yang menjadi kandidat presiden, muncul dua nama yang diprediksi akan mendominasi hasil pemilu. Ialah Hillary Clinton yang diusung Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik.

Banyak orang di dunia ini yang pikirannya sudah ter-set dengan berpikir bahwa menjadi yang ”pertama kalinya bagi sejarah” adalah sesuatu yang baik. Entah itu Hillary Clinton yang akan membuat sejarah dengan menjadi wanita pertama yang memenangkan jabatan presiden jika terpilih nantinya, atau Donald Trump sebagai nominasi Partai Republik karena ia adalah orang luar. 

Faktanya, tidak juga. Terpilihnya Obama menjadi presiden pertama Amerika berkulit hitam sama sekali tidak memperbaiki kehidupan orang kulit hitam. Bahkan sebaliknya, ratusan orang kulit hitam ditembak dan dibunuh. Artinya tidak ada perbedaan apapun untuk kehidupan rakyat Amerika kulit hitam. Yang jelas, percaya tidak percaya, baik Clinton maupun Trump adalah orang yang sama-sama berbahaya bagi dunia.

Siapa yang lebih baik di antara mereka? Atau kita bisa ganti pertanyaannya menjadi pertanyaan yang lebih tepat. Siapa yang lebih rendah tingkat kejahatannya? Pertanyaan ini selalu dihadapkan kepada rakyat Amerika di setiap pemilu. Hal ini mencerminkan bagaimana rusaknya sistem politik di sana. Barat menciptakan pemilu. Mereka merasa perlu memenuhi keinginan dunia, atau setidaknya dari warga negara mereka sendiri. Apa sebenarnya ajaran pemilu mereka? Orang-orang yang mendapat persetujuan oleh rezim diizinkan ‘bersaing’, baik itu diusung oleh geng politiknya atau kubu lainnya. Kelompok berduit dan suka berperang selalu terpilih, dan ada cara untuk menjamin hal itu.

Trump pernah mengatakan bahwa ia akan membuat Amerika menjadi lebih besar lagi. Kemudian ia ditanya bagaimana caranya, ia lalu menjawab, “Saya akan melakukannya, karena saya seorang pengusaha dan saya telah menghasilkan miliaran dolar”. Bisa terlihat bagaimana mudahnya ia mengatakan kalimat itu? Apa yang terbayang di kepala Anda ketika membacanya? Dan tahukah Anda bahwa kemenangan Trump menjadi presiden AS nantinya masuk ke dalam posisi ke 6 dari 10 risiko tertinggi di dunia?

Menurut kajian dari divisi riset dan analisa majalah the Economist Intelligence Unit (EIU), bahwa keberadaan Trump pada kursi presiden AS bisa berdampak pada situasi keamanan dan politik dunia. Dikatakan bahwa secara khusus Trump menunjukkan sikap bermusuhan terhadap perdagangan bebas, terutama kawasan perdagangan bebas Amerika Utara (Nafta). Dia juga berulang kali mencap Cina sebagai ‘manipulator mata uang’. Trump mengatakan dalam kampanyenya bahwa ia menghendaki semua keluarga teroris dibunuh. Dia pun ingin menginvasi Suriah guna membasmi kelompok ISIS dan merebut minyak di sana. Tidak hanya itu, Trump bahkan mengatakan akan melarang semua orang Islam masuk ke Amerika. Mereka akan diberi ID khusus supaya bisa mudah dilacak jikalau nanti akan melakukan aksi terorisme. Jika Trump terpilih nantinya, kelompok jihad akan memiliki alasan dan motif baru merekrut anggota lalu meningkatkan ancaman teror bagi seluruh dunia. 

Sedikit info, Trump tidak menyukai orang berkulit hitam. Ia menganggap bahwa orang berkulit hitam identik dengan kebodohan. Maka dari itu ia ingin imigran segera pergi dari Amerika dan membuat Amerika kembali menjadi negeri yang putih, dan masih banyak lagi. Belum jadi presiden saja sudah membuat kontroversi di sana-sini. Bisa dibayangkan betapa fatalnya dunia jika ia menjadi presiden?

Sekarang mari bicara tentang Hillary Clinton. Banyak politisi yang mengatakan bahwa Clinton sebaiknya tidak menjadi presiden. Apa yang mendasari pemikiran para politisi ini?

Clinton berjanji bahwa jika ia terpilih menjadi presiden nantinya, ia akan memperkuat hubungan antar negaranya dengan Israel. Ia pernah mengatakan, “Saya juga akan memanggil perdana menteri Israel ke Gedung Putih pada bulan pertama untuk mengambil alih tugas-tugas saya”. Ini merupakan fakta bahwa Clinton benar-benar mendukung Israel. Selanjutnya Clinton juga akan melakukan penggunaan militer ofensif lainnya atau melakukan perang tanpa deklarasi atau otoritas. Ia juga pernah mengatakan bahwa jika ia terpilih menjadi presiden, ia tidak akan segan-segan melenyapkan 80 juta orang Iran secara sepihak jika Iran menyerang Israel. Lebih berbahaya dari Hitler, bukan?

Yang kedua mengenai skandal email. Pada Maret 2015, publik mengetahui bahwa Clinton menggunakan email server pribadinya untuk laporan rahasia dan “pembicaraan resmi” lainnya. Para ahli mengatakan bahwa itu tidak hanya melanggar peraturan dan kebijakan departemen luar negeri, tetapi juga peraturan dan undang-undang federal.

Clinton juga negosiator yang buruk. Saat suaminya bijak dan tenang di bawah tekanan, Clinton justru sebaliknya. Saat negosiasi dengan lawan ataupun negara luar, Clinton kurang bisa mengontrol dirinya dan justru memicu cekcok antara dirinya dengan lawannya. Ia juga tidak ‘update’ mengenai kebijakan terbaru. Jawaban yang ia lontarkan mengenai masalah-masalah Amerika sangat simpel: naikkan pajak dan memasukkan uang ke dalam pemerintah. Padahal di Amerika, perusahaan-perusahaan besar sudah ikut andil dalam pembayaran pajak sebesar 70%. Jika terus dinaikkan, hal ini akan memicu penurunan omset perusahaan dan imbasnya adalah semakin banyaknya pengangguran. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline