Lihat ke Halaman Asli

Menilik Implementasi Nilai Kepesantrenan dalam Memoar Gus Dur

Diperbarui: 31 Januari 2022   17:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (kanan) tertawa ketika berbincang bersama Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) KH Cholil Bisri dalam Musyawarah Pimpinan Partai Kebangkitan Bangsa di Hotel Kartika Chandra Jakarta, Senin (10/6).(Kompas/Agus Susanto)

Sebagai satu-satunya Presiden Indonesia yang bergelar santri, tentu Gus Dur tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk unjuk aksi menggoyangkan negara yang dipimpinnya. 

Dengan berbagai ahliyah (perbuatan) dan qauliyah (ucapan) yang mengundang respon kontroversi, sosok Gus Dur yang telah wafat 12 tahun silam masih eksis dalam kehidupan masyarakat Indonesia melalui media komunitas Jaringan GUSDURian contohnya.

Selain dalam komunitas, ada ribuan penggemar Gus Dur di luar sana dengan bukti terjualnya buku Menjerat Gus Dur (2019) karya Virdika Rizky Utama dengan jumlah yang fantastis, yakni hampir 100.000 eksemplar terjual dalam waktu hanya dua bulan. 

Di samping larisnya buku karya jurnalis muda tersebut dan maraknya acara bedah buku, seminar dan lainnya, disusul pula dengan terbitnya buku Goro-Goro Menjerat Gus Dur (2020) yang semakin memuaskan emosi pencinta Gus Dur.

Sungkan rasanya jika memuaskan emosi cinta terhadap Gus Dur hanya melalui membaca histori langkah-langkah menuju kursi Presiden, hingga terbuktinya konspirasi miring melalui tumpukan dokumen yang hampir jatuh pada tukang rongsok.

Lalu, sudah seberapa dalamkah kita menancapkan nilai-nilai mulia yang telah beliau persembahkan kepada rakyat sekaligus muridnya? Tinggal pilih mau jenis nilai apa yang kita inginkan, atau lebih tepatnya kita butuhkan. Mulai dari nilai kemanusiaan, politik, toleransi, kesederhanaan hingga sikap "gitu aja kok repot".

Santri di pesantren

Ada dua macam rakyat Indonesia dilihat dari segi pendidikan pesantrennya, yaitu santri dan non-santri.

Adapun Gus Dur adalah seorang santri yang menjadi panutan dari kalangan santri maupun non-santri, ini bukan hal biasa. Sebab, kalangan dari non-santri meliputi rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai perbedaan suku bangsa, kebudayaan, hingga lintas agama.

Banyak penuntut ilmu di dalam pesantren baik itu kiai ataupun santri biasa yang memiliki wawasan luas di luar pesantren. Tetapi, sangat sedikit orang yang berada di luar pesantren mengetahui nikmatnya kedamaian pesantren. 

Mungkin aneh apabila menceritakan kepada orang awam, bahwa banyak santri yang merengek-rengek gundah saat muwadda'ah apalagi boyongan dari pesantren, atau ada santri yang tak kenal bosan hidup bertahun-tahun di pesantren walau kerjaanya hanya menata sandal kiai.

Tidak akan ditemukan titik akhir berbagai kisah yang memanjakan batin bersumber dari pesantren. Selain ta'allum (belajar), santri juga mengemban amanah wajib sebagai penyempurna ilmunya melalui khidmah atau mengabdi. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline