Lihat ke Halaman Asli

Lampu Teplok

Diperbarui: 18 Maret 2017   22:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: davidhahasudungan.blogspot.co.id

Setengah jam setelah pulang dari jamaah salat subuh, Kyai Jamil kembali lagi ke musala menjalankan rutinitasnya, mulang ngaji. Membagi ilmunya kepada masyarakat dan memberi pencerahan kepada mereka akan nilai-nilai luhur ajaran agama.

Bagi kebanyakan masyarakat Desa Kalitan, Kyai Jamil bukanlah sembarang kyai. Ia tidak hanya dikenal karena ilmu dan kesalehannya, tapi ia juga sosok pribadi yang bersahaja dalam berpenampilan. Tidak heran bila setiap hari pakaian yang ia kenakan itu-itu saja.

Belum lagi pecinya, para jamaah menyebutnya kupluk beirut. Maklum, warna hitam kupluknya sudah memudar dan berubah menjadi kuning, seperti kitab kuning cetakan Beirut. Sarung yang dikenakan pun sudah tidak nampak lagi garis-garis motifnya. Satu lagi yang mungkin agak aneh bagi mereka yang belum kenal Kyai Jamil. Ia selalu membawa lampu teplok sebagai penerang bila sedang ngaji, walau sudah ada lampu listrik.

Pagi itu seperti biasa, tak ada sesuatu yang berubah pada pengajiannya. Yang dibaca masih Kitab Tafsir Jalalain. Entah sudah berapa kali kitab itu khatam dibaca. Buat Kyai Jamil, bukan soal kitabnya, tapi bagaimana menyampaikan pesan-pesan yang tersurat maupun yang tersirat dalam kitab itu, agar bisa dipahami dan diamalkan oleh mereka, jamaah pengajiannya.

Kalau kemudian ada yang tampak berubah, mungkin karena jamaah yang hadir makin hari makin banyak. Mereka tidak hanya datang dari perkampuingan sekitar. Tapi juga dari daerah yang cukup jauh. Tidak heran bila mereka datang menggunakan kendaran bermotor. Mereka juga datang dari berbagai latar belakang dan profesi yang beragam. Ada PNS, bakul pasar, anak sekolah, buruh pabrik dll.

Pengajian Kyai Jamil hanya berlangsung satu jam. Sekitar setengah tujuh biasanya sudah kelar. Mereka yang PNS langsung ngantor. Anak-anak sekolah juga langsung berangkat sekolah.

Begitu pula para bakul juga terus ke pasar. Mereka yang aktifitasnya jam delapan ke atas, biasanya langsung menyerbu warung-warung yang ada di sekitar mushala. Di tempat itu pula para jamaah dari berbagai latar belakang bersosialisasi. Meski dari bermacam-macam profesi,  komunikasi di antara mereka tetap nyambung dan seru.

“ Wah, pengajiannya Kyai Jamil makin hari kian ramai, ya..”, kata Cak Sidik, si empunya warung membuka pembicaraan.

“ Itu namanya ilmu yang berkah. Bermanfaat”, sambung Pak Agus menimpali, sambil mulutnya menari-nari menyantap pisang goreng.

“ Nggak seperti Mahfud. Lulusan pesantren malah jadi kernet”, ujar Samsul menyayangkan tetangganya itu.

“ Sudahlah. Kita kan nggak tau jalan hidup setiap orang”, tukas Mas Yanto ikut nimbrung pembicaraan mereka.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline