Lihat ke Halaman Asli

Mary S

Penulis

Musim Panas Lail

Diperbarui: 15 November 2022   04:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Lail duduk di bangku kedua, barisan paling kanan di kelas.

Dia meninggal kemarin sore.

Tidak ada kata yang bisa terucap dari bibirku, dan tidak ada pula yang mengatakan kalimat menenangkan. Bukan karena mereka tidak peduli denganku, tapi masalahnya adalah tidak ada yang tahu apa yang terjadi diantaraku dan Lail.

Memang tidak ada hal khusus yang terjadi.

Lail teman sekelasku. Dia berambut sebahu lewat sedikit dan berwarna coklat gelap. Lail senang mengikat rambutnya dan aku tahu pelajaran favoritnya adalah seni teater. Aku pernah menangkap dengar bahwa dia ingin menjadi sutradara suatu hari nanti. Semester depan, Lail akan lulus dari sekolah dan masuk ke perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta. Lail adalah teman sekelas yang berisik dan pendiam di saat bersamaan, kadang kala aku juga tidak mengerti. Aku rasa dia juga.

Kalau kau tanya padaku, dia adalah gadis tercantik di kelas. Dulu, aku menyukai isi kepalanya. Waktu kami beberapa kali bertukar pembicaraan mengenai sejarah---meskipun aku tidak menunjukkannya secara gamblang---tapi aku akui itu adalah momen terbaik yang pernah seseorang berikan kepadaku.

Ada sesuatu didalam diriku mengenai penutupan petinya hari ini. Aku tidak menangis tapi rasanya seperti dia masih disini. Entah itu hal yang baik atau sebaliknya, aku tidak akan pernah tahu.

"Aku pikir Lail tidak akan pergi secepat ini." Radi berujar, waktu kami berdua memutuskan untuk keluar dari ruangan tempatnya sudah dibaringkan. Didalam penuh dengan anggota keluarganya. Apalah kami ini yang sebatas teman sekelas untuk masuk begitu saja? "Dia bukan tipe yang akan melakukan hal seekstrem itu."

"Ku rasa, setelah hari ini, tidak ada yang benar-benar mengenalnya." Aku menyahut, tidak tahu apakah Radi bahkan butuh kalimatku.

"Rasanya tidak nyaman. Rasanya dia masih disini dan mengeluarkan candaannya yang receh itu." Radi kembali berujar. Aku biasanya tertawa diam-diam tiap ia mengeluarkan candaannya.

"Mungkin karena kau pernah menyukainya." Hanya itu yang bisa aku pikirkan mengenai Radi dan Lail.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline