Lihat ke Halaman Asli

FX Aris Wahyu Prasetyo Saris

Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Tatkala Fajar (9): Kolam Ikan, Saksi Kehidupan yang Penuh Syukur

Diperbarui: 3 Mei 2021   13:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi. aquariumpurwakarta.blogspot.com

Perkenalkan, aku adalah kolam ikan. Sesuai namaku, air dan ikan-ikanlah sahabat karibku. Tubuhku kokoh dengan batubata sebagai rangkaku, namun terlihat cantik dan feminim dengan goresan cat tembok yang mengelilingi tubuhku. Terpapar panas matahari, hujan, angin, dan debu, itu sudah biasa. 

Runtuhan daun dan ranting yang kotor bukan jadi masalah buatku. Aku juga akan tetap setia menunggu seseorang mungkin karyawan atau tukang kebun (?) untuk membersihkan bagian dalam dan luar tubuhku, karena aku tidak dapat membersihkan diriku sendiri. Dengan sebuah patung yang besar dan kokoh berdiri di atasku, membuatku merasa punya teman untuk bercerita.

Sebenarnya, andai kubisa memutar balik waktu, aku ingin menjadi diriku yang dulu, saat pertama kali dibangun. Indah, baru, cantik, dan akhir-akhir ini tubuhku diberi cat berwarna biru langit di bagian dalam. Namun, mau tak mau, aku harus menerima kenyataan saat ini. Cat biru langit itu kini mulai memisahkan dirinya dariku. Sepertinya, air dan hijaunya lumut yang egois sangat benci kepadanya, sehingga membuatnya menjauh dariku. 

Selain itu, diam-diam aku juga mengamati burung-burung yang dapat terbang dan manusia yang dapat berjalan ke mana pun mereka mau, sedangkan aku tidak dapat. Mereka juga bisa makan enak, sedangkan aku tidak dapat. Aku juga selalu iri dengan patung yang berdiri di atasku. Semua orang selalu memandangnya, sedangkan aku yang susah-payah menahan berat tubuhnya diabaikan begitu saja.

Meski hati kecilku  diselimuti pemikiran-pemikiran yang negatif serta persepsi bodoh yang mengatakan bawa hidupku menderita, tak lupa dengan rasa iri yang bercampur-aduk menjadi satu, aku selalu berusaha untuk bersikap tenang, positif, dan membayangkan seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. 

Tahukah kamu, saat ini, pemikiran negatif itu telah tergantikan oleh pemikiran-pemikiran baru yang positif baru, dan menyenangkan; tetapi tetap tidak melupakan masa lalu. 

Tetapi, ini semua tak dapat kuraih tanpa kehadiran ikan-ikan yang selalu ada untukku, dan air yang mengalir tenang memberiku inspirasi untuk bersikap seperti itu pula. Aku merasa percaya diri ketika bersama-sama dengan mereka. Sedangkan aku akan merasa sangat sedih apabila tidak bersama dengan mereka.

Sebagai sebuah kolam ikan, aku senantiasa berharap agar para manusia dapat merawat dan menjagaku dengan baik. Aku tahu, aku tidak dapat berjalan sendiri, kemudian mengambil peralatan untuk merawat tubuhku. 

Karena itu, aku membutuhkan manusia. Ingat, kalian telah repot-repot membangunku sebagus mungkin untuk memperindah taman, namun, apa jadinya jika tubuhku tidak dirawat, menjadi kotor dan ditumbuhi lumut-lumut licin? Apakah kalian suka melihat tubuhku yang menjijikkan? Karena itu, sekali lagi, wahai manusia tolong dengarkan permintaanku yang hanya dapat terucap melalui tulisan ini berhubung aku tidak memiliki mulut untuk berbicara. Kiranya kalian memperhatikanku setiap waktu.

Ilustrasi. www.99.co

Dalam hati, aku bangga telah berada di tanah ini, dengan banyak pohon yang membuatku sejuk dan nyaman, tidak lupa ditemani para ikan dan air. Jika dipikir-pikir, hargaku ini sangat mahal, hingga membuatku besar kepala. 

Mengapa aku berpikir begitu? Jawabnya mudah saja. Pemilik tanah ini rela membayar tukang-tukang bangunan serta bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuatku. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline