Lihat ke Halaman Asli

Mahendra Paripurna

Berkarya di Swasta

Renungkanlah, Pesan Berbagi Akan Terasa Begitu Bermakna, Saat Kita Sedang dalam Kesulitan

Diperbarui: 31 Desember 2020   07:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Illustrasi berbagi - pixabay.com

Harus terkurung bagaikan terpenjara di rumah sendiri sangatlah menyiksa. Karena tak boleh keluar rumah bahkan untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari. Itulah yang kurasakan selama beberapa hari. Disini aku baru merasakan makna dari pesan 'Berbagi, Memberi, Menyantuni'.


Semua bermula saat aku sepulang kerja merasakan tenggorokan sedikit gatal. Ku pikir itu hanyalah batuk biasa sehingga aku hanya minum obat batuk yang kebetulan selalu tersedia di rumah.

Empat hari kemudian aku mulai merasa badan sedikit kurang enak. Terasa menggigil apalagi jika bersentuhan dengan air sekedar mencuci muka. Sepertinya aku mulai menderita demam. Selama beberapa hari itu perutku terasa kembung dan sulit untuk 'BAB'.

Nafsu makanku menurun drastis. Aku hanya mampu menelan beberapa sendok makanan. Sampai-sampai memegang sendok saja terasa gemetar. Setiap malam aku sulit tidur. Kakiku beberapa kali mengalami kram.

Isteriku juga mengalami batuk, pilek dan demam sehingga di hari keenam aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke klinik dekat rumah. Karena aku juga mulai merasakan sesak pada pernafasanku. Menurut dokter asam lambungku juga naik sehingga menyebabkan sulit 'BAB'.

Setelah meminun obat dari dokter lumayan asam lambungku membaik dan proses 'BAB' mulai lancar. Namun batuk dan sesak nafasku masih terasa mengganggu. Sesekali aku merasa demam dan sakit kepala.

Kedua anakku mulai mengalami gangguan batuk dan pilek serta demam. Bahkan disertai muntah setiap kali masuk makanan. Yang membuatku mulai agak curiga anakku yang pertama mulai merasa kehilangan daya penciumannya.

Hari itu aku akhirnya memutuskan untuk tidak masuk kerja. Selain karena kesehatanku yang semakin menurun, aku juga ingin memeriksakan anak pertamaku ke dokter untuk memastikan kondisi kesehatannya.

Pagi-pagi aku dan anakku sudah tiba di puskesmas. Beberapa saat menunggu dalam antrian, akhirnya nama kami dipanggil untuk masuk ke ruangan pemeriksaan.

Setelah menceritakan keluhan batuk, sesak nafas dan demam yang kurasakan serta puteriku yang kehilangan indera penciumannya, dokter mulai memeriksa kami. Ia kemudian meresepkan kami beberapa obat untuk diminum.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline