Lihat ke Halaman Asli

Ludiro Madu

TERVERIFIKASI

Dosen

Nostalgia Masa Kecil, Boleh Main Lebih Lama Agar Bisa Puasa Seharian

Diperbarui: 20 April 2021   00:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTlmGM2zRcKQ6azOa6CZQ4GfyPF5mA3AaWrvQ&usqp=CAU

Bagi anak-anak, bulan puasa penuh berkah itu artinya lebih banyak main-mainnya di sore hari hingga bedhug Maghrib. Bahkan jika orang tua (ortu) membolehkan, anak-anak maunya mainan seharian. 

Nostalgia bahwa anak-anak malah dibiarkan untuk bermain bersama selama bulan Puasa ini menjadi menarik. Saya baru menyadarinya ketika sudah dewasa mengenai ijin ortu itu. 

Di satu sisi, ortu tidak mau direpotkan dengan anak-anaknya yang ramai dan cari gara-gara ketika di rumah. Padahal mereka sedang mencoba menjalankan ibadah puasa. Ketimbang sibuk memarahi anak di rumah, mereka menyuruh anak mereka bermain bersama teman-teman sekampung.

Di sisi lain, ijin itu ternyata agar anak-anak bisa berpuasa seharian penuh. Dengan bermain, fokus anak-anak lebih ke permainan dan teman-teman mereka. Mereka pun asyik bermain hingga bedhug atau sirene buka puasa berbunyi.

Begitulah situasi bulan Puasa di kampung saya di masa kecil di ibukota Jawa Tengah, Semarang. Sebuah kampung di sebelah Utara ke arah pelabuhan. Penduduknya sangat plural dari etnis Tionghoa dan Jawa. Agamanya Islam, Katolik, Kristen Protestan, Budha, dan kepercayaan Konghucu (tidak diakui di jaman Orde Baru). 

Lalu, banyak anak seusia saya yang begitu menikmati bulan Ramadhan, walau tidak beragama Islam. Ada tujuh hingga sepuluh anak laki-laki di kampung waktu itu. Tanpa meributkan perbedaan agama, anak-anak hanya sibuk bermain. 

Ketika bedhug langgar kampung berbunyi, semua anak itu pulang ke rumah. Seolah semua puasa, mereka pun ikut-ikutan berbuka puasa di rumah masing-masing.

Yang namanya anak-anak, semua senang bermain bersama. Apalagi jika bulan Puasa berbarengan dengan liburan sekolah, maka kegiatan tiap hari adalah bermain dan bermain. Biasanya kami bermain di sore hari. 

Kadang-kadang kami bisa juga bermain bersama teman-teman di sekampung mulai dari subuh hingga azan magrib menjelang. Lokasi bermain hanya di sepanjang kampung. Karena itu, orang tua merasa aman membiarkan anak-anak mereka bermain seharian.

Kenangan kembali ke masa kecil di bulan Ramadhan selalu berujung pada macam-macam permainan anak-anaka. Pada umumnya permainan kami di kampung waktu itu adalah mercon rawit, engklek, dan petak umpet.

1. Mercon atau petasan rawit
Ramadhan terasa kurang afdol jika tidak menyalakan petasan. Bagi kami, anak-anak kampung dengan rumah yang bersebelah-menyebelah, petasan jenis rawit ini yang bisa dipilih. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami biasanya membeli petasan jenis ini di jalan besar di ujung jalan kampung kami.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline