Lihat ke Halaman Asli

Lisa Selvia M.

Literasi antara diriku, dirimu, dirinya

Antara Sarinah, Bung Karno, Megawati dan Jokowi

Diperbarui: 8 Januari 2019   09:33

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bung Karno dan Sarinah (Foto: Istimewa)

Alkisah hidup seorang raja. Di kerajaannya pada saat itu baru pertama kalinya dibangun sebuah tempat perdagangan yang berupa bangunan megah dan sangat canggih untuk pertama kalinya. Dan untuk pertama kalinya di kerajaannya ada bangunan bertingkat. Dirancang untuk menjadi pusat  perdagangan rakyatnya terutama untuk hasil bumi dan industri. Walau pada saat itu pihak pesimis yang memandang hal ini terlalu memboroskan uang kerajaan. Serta diprotes untuk pembiayaannya.

Nama yang diambil untuk pusat perbelanjaannya ini juga dari tidak lazim. Biasanya seorang raja kalau memberi nama bangunan yang dibangga-banggakan cenderung akan memberi artinya sesuatu yang megah atau namanya sendiri. Entah mengapa sang raja mengambil nama pengasuhnya pada saat kecil. Yah, dari dahulu profesi pengasuh anak dianggap sebelah mata. Tentu heran bukan?

Sarinah

Ilustrasi ini kurang lebih saya ceritakan kepada para peserta tur yang saya bawa pada saat bercerita asal-usul nama Mal Sarinah, pusat perbelanjaan dengan gedung bertingkat pertama di Indonesia.

Saya biarkan mereka mencari kesimpulan sendiri mengapa seorang Bung Karno menamakan mal tersebut adalah Sarinah yang berasal dari kalangan orang biasa-biasa. Walau tampak keterkejutan dan keterkaguman dalam raut wajah mereka. Saya hanya memberi penekanan bahwa raja yang sangat tinggi derajatnya, mau mengambil nama rakyat jelata untuk sesuatu yang dibanggakannya, pasti beliau adalah orang yang spesial di mata rakyatnya.

Marhaenisme

Padahal, jika menilik Ideologi Marhaenisme yang diciptakan oleh Bung Karno. Di mana terinpirasi dari pertemuan dengan seorang petani yang sedang menggarap sawah, lalu terjadilah dialog di antara mereka. Dari pembicaraan ini terkuak kenyataan miris. Bahwa sawah, bajak, cangkul serta dia menggarapnya sendiri, akan tetapi tidak pernah mencukupi kehidupan keluarga petani.

Sosok inspirasi Bung Karno ini bernama Marhaen. Sehingga diberikan nama ideologi yang pro kepada rakyat kecil nama petani tersebut. Demikian penjelasan dari SekJen PDI-P Hasto Kristiyanto mengenai asal muasal nama Marhaenisme di kantor DPP PDIP beberapa hari yang lalu.

Pemilu

Baiklah sekarang melompat sedikit. Ingat Bung Karno, ingat Megawati dan Partai PDI-P. Saya sempat bertanya kepada beberapa keluarga dan teman saya, apa pendapat mereka tentang partai yang identik dengan warna merah ini. Kejadiannya pada saat pada pemilu yang lalu, pertanyaan saya tujukan kepada mereka yang jelas-jelas akan yang memilih Joko Widodo atau kerap dipanggil Pakdhe atau Jokowi.

Kira-kira apakah pilihan partai mereka, karena PDI-P partai yang mengusungnya. Jawaban mereka membuat saya bingung, "Tidak". Saya mengejar alasan mereka. Beberapa menjawab karena banyak perwakilan dari PDI-P terjerat korupsi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline