Lihat ke Halaman Asli

Liliek Purwanto

TERVERIFIKASI

penulis

Kali Ini, Ada Rasa Pesimis yang Melegakan Hati

Diperbarui: 12 Mei 2020   23:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi: tribunnews.com/Sanovra Jr.

Nyaris setiap tahun terjadi pengingkaran atas tekad yang kami canangkan dengan sangat meyakinkan pada tahun sebelumnya. Kejadiannya antara dua minggu hingga seminggu menjelang Idul Fitri. Persoalannya juga sebenarnya nggak penting-penting amat. Maka kami sering menganggapnya sebagai lelucon belaka.

Lebaran tahun kemarin masih terjadi, seperti Lebaran dua tahun silam, juga tiga tahun yang lalu. Saya tak begitu mengingat waktu yang tepat, pokoknya beberapa hari sebelum Idul Fitri. Saya merasa cukup lelah mendampingi istri dan anak berpindah-pindah dari satu toko busana ke toko busana lainnya.

Tujuan kami serupa dengan keluarga-keluarga lain yang umumnya juga datang berombongan ke toko-toko pakaian yang kami sambangi. Apalagi kalau bukan berburu pakaian Lebaran: baju koko, peci, kerudung, dan kadang-kadang juga sajadah serta kebutuhan sandang untuk ibadah lainnya.

Padahal toko-toko yang kami kunjungi selalu membuka pintu lebar-lebar sepanjang tahun. Mereka tak hanya beroperasi pada bulan suci. Namun kami selalu hanya mendatanginya pada penghujung bulan suci, ketika kebanyakan keluarga lainnya berbuat hal yang sama.

Maka, segenap kerepotan sudah pasti menyertai kegiatan ini. Sejak masuk pelataran parkir, saya sudah harus berjuang mencari sebidang kecil tanah kosong untuk menaruh mobil. Tak jarang harus berputar-putar sekian kali sebelum menemukan tempat yang mendadak langka pada masa seperti ini. Sesekali saya harus rela berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh dari toko karena tak lagi tersedia sejengkal pun tempat serupa di sekitar toko busana.

Seusai berpusing-pusing ria di lahan parkir, kepusingan berikutnya telah terpampang di depan mata. Antren manusia-manusia serupa kami berdesak-desakan memilih-milih pakaian. Lalu bergegas berebut sebidang cermin untuk mematut-matut diri. Dan pangkalan terakhir, pembayaran di kasir, juga tak luput dari barisan manusia yang kadang-kadang harus ditegur satpam agar kembali berbaris rapi dalam antrean.

Pengalaman serupa yang menimpa kami setiap tahun selalu mendatangkan hikmah dan tekad yang tak berubah: tahun berikutnya kami tak akan mengulang tindakan "bodoh" semacam ini. Kami akan mempersiapkan diri menyambut Lebaran jauh-jauh hari sebelum tibanya sang fitri. Bahkan jika memungkinkan, sebelum memasuki bulan Ramadan kami sudah menyeterika dengan rapi baju Lebaran yang baru kami beli.

Namun, apakah tekad yang dicanangkan dengan penuh semangat itu benar-benar kami laksanakan dengan gagah, segagah ketika mengucapkannya? Harap Saudara-Saudara tidak menertawakan kami. Ikrar itu sudah tertinggal jauh di tahun lalu. Mohon maaf, tahun ini kami tak ingat lagi.

Begitulah sepenggal kisah tentang sebuah tekad membara yang selalu berulang setiap tahunnya. Dan sayangnya, berulang pula pengingkarannya setiap menginjak penghujung Ramadan tahun berikutnya.

Lantas bagaimana kondisi di tahun ini?  Apakah akan ada perubahan atau tetap sama dengan tahun sebelumnya?

Hingga pertengahan Ramadan ini, sebelum mengamati topik Samber THR Kompasiana hari ini, saya nyaris tak mengingat lagi ikrar tahunan itu. Bisa jadi memang sudah menjadi semacam tradisi: berjanji -- mengingkari -- berjanji lagi -- mengingkari lagi.  Mungkin pula faktor suasana masa pandemi virus Corona semakin membuat kami tak mengingat situasi di luar sana.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline