Lihat ke Halaman Asli

Leya Cattleya

TERVERIFIKASI

PEJALAN

"Bau Ikan Asin" dan Andai RUU PKS Telah Disahkan

Diperbarui: 5 Juli 2019   02:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber gambar: nurse.org

Tanggapan untuk Sahabat Kompasianer Felix Tani
Rasanya lega, bahwa Profesor Felix Tani bersuara dan menyampaikan pandangannya melalui artikel ini dengan menggunakan perspektif feminis dalam menganalisis, mengemukakan argumentasi, dan usulan-usulannya.

Apalagi Profesor Felix Tani berbicara sebagai laki-laki dan menjadi sangat efektif menyampaikan argumentasi kesetaraan gender.

Saya sangat mendukung pandangan Profesor Felix terkait bagaimana perempuan dan laki-laki sebagai makhluk sosial budaya, dan bukan hanya sekadar seonggok daging yang kebetulan dinilai (secara subyektif) memiliki aroma ikan asin, dan bisa dicerai kapan saja bila si laki laki merasa sudah 'tidak mau' lagi. 

Terdapat hal yang saya rasa kita perlu memaknai sebagai persoalan serius, khususnya terkait substansi dari kalimat yang dimunculkan dalam Youtube seorang laki-laki, dan juga bagaimana aspek media sosial dan teknologi membawa dinamika yang berbeda.

Relasi Gender dalam Lembaga Perkawinan dan di Luar Lembaga Perkawinan
Dari konteks apa yang terjadi pada artis yang kemudian memiliki masalah dengan pernyataan "bau ikan asin", nampak bahwa relasi keduanya pada saat perkawinan masih utuh sudah tidak dalam relasi yang setara.

Pada dasarnya, kesetaraan antara perempuan dan laki-laki akan mendukung hubungan yang lebih stabil dan lebih sehat. Ini terdapat pada hasil studi global yang dilakukan pada 2017 yang menunjukkan bahwa suami yang berperspektif gender, atau berperspektif feminis, memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendorong perkawinan yang lebih sehat dibandingkan dengan suami yang tidak memahami pentingnya kesetaraan. Dalam hal ini, perkawinan itu digambarkan dengan relasi yang saling menghargai.

Studi tersebut juga mencatat bahwa kesetaraan di antara pasangan suami-istri tidak berarti membuat mereka tidak pernah bertengkar. Pertengkaran atau perdebatan adalah biasa. Yang menjadikan perkawinan berkesetaraan dapat membantu perkawinan yang sehat adalah adaya kesadaran di antara suami-istri bahwa hubungan mereka dinamis dan tidak statis. Keterbukaan membuka ruang berdiskusi dan berdebat. 

Undang undang Perkawinan No 1/1974 masih bias gender. Posisi laki-laki dalam perkawinan di Indonesia menurut undang-undang tersebut adalah sebagai Kepala Keluarga. Sementara, perempuan sebagai istri dan ibu rumah tangga. Posisi "headship" atau status kepala keluarga ini sebetulnya diperkenalkan pada masa penjajahan Belanda. Ini banyak mengubah tatanan keluarga yang sebelumnya berbasis budaya lokal masing-masing.

Pada akhirnya, ini memengaruhi bagaimana relasi suami istri dalam rumah tangga. Sering kita temui situasi bahwa posisi laki laki jadi lebih tinggi dari perempuan, sementara perempuan ada di posisi yang dimarjinalkan. Cilakanya, apa yang terjadi di dalam rumah tangga kemudian seakan ditempatkan pula di ranah publik dan di masyarakat. Seakan, laki laki harus selalu jadi pemimpin di mana saja, termasuk dalam proses pembangunan. 

Ini seringkali didukung dengan bias yang lebih tidak seimbang ketika perkawinan itu didasari pada perspektif bahwa laki-laki memiliki status lebih tinggi dan kekuasaan lebih besar dibandingkan dengan perempuan, dan oleh karenanya, laki laki bisa bertindak apa saja. Ditambah lagi, bila  masyarakat menggunakan perspektif atau pandangan yang tidak seimbang pada pemahaman agama yang dianut, meski kita paham bahwa Allah Maha Adil. Penganut dan penyebar agama sering menginterpretasikan ajaran agama dengan bias yang ada di dalam kepalanya.

Dalam prakteknya,  'priveledge' yang diberikan oleh sistem sosial dan budaya kepada laki laki ini juga tidak selamanya amenguntungkan laki laki. Kita lihat banyak laki laki seperti kehilangan pegangan dan  'stress' ketika sistem sosial menuntut ia selalu menjadi pemimpin keluarga dan  wajib menjadi penyedia utama nafkah keluarga. Padahal situasi dan kondisi tidak selamanya bisa demikian. Tidak mudah menjadi laki laki seperti yang diharapkan oleh sistem sosial, yaitu selalu menjadi pemimpin di masa yang kompetitif seperti sekarang. Sementara, menjadi perempuan yang harus  selalu 'bersembunyi' dan mengalah menjadi orang kedua di semua suasana dan segala cuaca juga bukan hanya tidak mudah, tetapi juga tidak adil. Atau memang kita harus selalu bersandiwara? Melelahkan tentunya.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline