Lihat ke Halaman Asli

Latifah Maurinta

TERVERIFIKASI

Penulis Novel

[Melodi Silvi] Garis Pemisah Cinta dan Benci

Diperbarui: 19 Maret 2018   08:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

powerofpositivity.com

Pesawat mendarat mulus. Waktu yang dinanti para penumpang pesawat. Saat mereka tiba di tempat yang dituju. Tak terkecuali oleh empat pria tampan metropolis ini.

Pelataran bandara tetiba dipenuhi atmosfer rasa ingin tahu. Semua mata tertuju ke arah empat pria itu. Satu pria Chinese, tiga lainnya setengah bule.

"Permisi," Anton berkata sopan. Tersenyum pada sejumlah wanita bertubuh tambun berpenampilan super glamor yang menghalangi jalan.

Mereka menepi. Demi melihat siapa yang lewat, mata wanita-wanita berumur itu melebar. Anton tetap tersenyum. Ekspresi Albert sedingin baja beku. Calvin dan Revan terlihat tenang.

"Mereka terpesona pada kita," bisik Revan setelah agak jauh dari kerumunan wanita itu.

"Maybe. Sudahlah, tak usah dipikirkan." tukas Calvin singkat, menutup tabnya.

Sementara itu, Albert stay cool sambil memainkan smartphonenya. Ia membuka website milik Calvin. Rupanya Calvin baru saja meng-update isi melodisilvi.com dengan artikel terbarunya.

"Sepi yang Bukan Kesepian." Albert membaca keras-keras judul artikel itu.

"Wow, great. Nanti aku baca." Anton dan Revan berucap nyaris bersamaan.

Belum sempat Calvin menanggapi, kedatangan Adica mengalihkan atensi. Segurat senyuman terlihat di wajah letihnya. Diambilnya travel bag mereka, lalu berkata.

"Wellcome back."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline