Lihat ke Halaman Asli

Latifah Maurinta

TERVERIFIKASI

Penulis Novel

Merdeka: Jujur, Toleran, dan Positif

Diperbarui: 19 Agustus 2017   01:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bulan Agustus menjadi bulan spesial di negara kita. Di bulan ini, ada satu momen yang sangat luar biasa. Wow, sangat luar biasa? Apa ya kira-kira momennya?

Yups, tepat sekali. Peringatan kemerdekaan. Tahun ini, Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-72. Hmm...sudah cukup tua ya? Eits, tapi itu untuk ukuran standar umur manusia. Sedangkan jika diukur dalam standar usia berdirinya sebuah negara, Indonesia masih tergolong muda. Coba bandingkan dengan Swiss yang sudah berusia 726 tahun, atau Andora yang telah didirikan sejak tahun 1278.

Sebenarnya, apa itu merdeka? Menurut KBBI, kata merdeka berarti bebas dari perhambaan, penjajahan, lepas dari tuntutan, tidak terikat dengan orang lain, dan berdiri sendiri. Sebuah negara dapat dikatakan merdeka bila dapat berdiri sejajar dengan negara-negara lainnya. Sejatinya, sebuah negara tidak bisa berdiri sendiri. Tetap saling membutuhkan dengan negara lain.

Indonesia dapat dikatakan telah merdeka. Sebab telah terbebas dari penjajahan negara lain. Tiga setengah abad dijajah Belanda, lalu tiga setengah tahun dijajah Jepang. Kini Indonesia menjadi sebuah negara kesatuan yang bebas dari penjajahan negara lain.

Tiap kali Agustus tiba, langsung saja nuansa seremonial begitu kuat terasa. Berbagai event diadakan untuk memeriahkan momen kemerdekaan. Kisah-kisah sejarah tentang para pahlawan dan bapak pendiri bangsa diangkat ke permukaan. Tak jarang nasib para veteran yang berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan kembali menjadi sorotan. Pokoknya, Agustus menjadi bulannya sejarah dan kemerdekaan.

Setelah euforia hari merdeka berakhir, semuanya seakan lenyap. Semangat cinta tanah air yang dikobarkan di awal sampai pertengahan bulan tetiba lenyap begitu saja. Kembali lagi pada kebiasaan semula: radikalisme, isu SARA, dan kecintaan berlebihan pada budaya asing.

Menurut saya, kemerdekaan dapat bermakna tiga hal: jujur, bebas, dan positif. Merdeka luas maknanya. Ayo kita bahas ketiga poin itu.

  1. Jujur

Indonesia memang telah merdeka. Penjajah sudah angkat kaki dari bumi pertiwi berkat jasa dan keberanian para pahlawan. Sayang sekali, kemerdekaan di negara kita masih diwarnai kecurangan dan ketidakjujuran. Dalam bidang apa pun, masih banyak praktik-praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Entah itu di bidang politik, ekonomi, olahraga, kesehatan, dan pendidikan.

Contoh kecilnya, kecurangan dan ketidakjujuran di bidang pendidikan. Saya pernah mengalaminya sendiri.

Dua tahun lalu, beberapa minggu sebelum mengikuti ujian nasional, di kelas saya sebagian besar murid sibuk mendiskusikan mengenai bocoran soal dan kunci jawaban. Mereka tergoda untuk membeli bocoran serta kunci dengan harga jutaan rupiah. Uang sudah mulai terkumpul. Mereka terus bergerak mempromosikan peredaran barang haram itu.

Saya mengikuti diskusi itu dari awal sampai akhir. Sebagian besar teman sekelas rela mengeluarkan uang jutaan rupiah demi mendapatkan bocoran soal dan kunci jawaban. Saya sendiri sama sekali tidak tertarik. Bukannya mau sok suci atau sok berhati malaikat, tapi saya masih takut hari pembalasan di akhirat. Saya takut berdosa besar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline