Lihat ke Halaman Asli

Langit Muda

Daerah Istimewa Yogyakarta

Corona Tidak Kelihatan di Jalan

Diperbarui: 23 Juni 2021   09:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Itu katamu
Ketika kuminta masker dikenakan
Ketika kuminta jauhi kerumunan
Ketika kuminta tak perlu keluyuran

"Di jalan semuanya terlihat baik-baik saja"
"Di pasar terlihat normal"
"Di mall tak ada tanda-tanda covid"
"Di warung dan lesehan orang santuy saja"

Begitu jawabanmu
Doyan ngeyel malas membaca
Lebih cepat jari klik broadcast dan forward
Ketimbang dipakai untuk scroll dalami fakta

Belum percaya kalau belum mengalami sendiri?
Celakalah kalau semua orang berprinsip sepertimu
Ya kalau masih bisa sembuh
Kalau ndak bisa tertolong?

Corona bukan tuyul
Juga bukan babi ngepet
Tak perlu sesajen
Apalagi telanjang
Bila penasaran dengan penampakan

Cobalah ke rumah sakit dan shelter pasien covid
Jangan masuk
Cukup di jalan di luar gerbang

Kita bisa menyaksikan
Pertunjukan orkestra kepedihan
Simphoni pengantar kematian

Sirene meraung-raung
Ambulan datang dan pergi
Datang dengan berita kesakitan
Pergi dengan berita kematian
Ketika tangisan tak lagi menggetarkan
Hanya sekedar angka-angka dalam catatan

Datanglah ke tempat penguburan pasien covid
Lihatlah ambulan berbaris
Mengantarkan para mantan pasien covid
Ke peristirahatan terakhir

Meski kuburan bukan kepunyaan BPJS
Hendak dikubur pun masih harus mengantri
Hari-hari ketika para petugas penggali kubur
Mesti menginap karena jenazah terus berdatangan

Corona memang bukan one-way ticket
Tapi juga tak menjanjikan tiket pulang pergi
Corona memang bukan rolet rusia
Tapi nyawa tak layak dipertaruhkan
Hanya untuk sebentuk kebandelan

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline