Lihat ke Halaman Asli

Laela Nurhayati

Praktisi PAUD

Upaya Meminimalisir Dampak Single Parent bagi Perkembangan Anak

Diperbarui: 9 Juli 2022   08:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

ABSTRACT

Single parenting occurs due to divorce or death. Divorce is the breaking of the bond between a husband and wife which results in separation. Divorce is caused by many things, namely the absence of love, failure to communicate, domestic violence, a declining economy, the presence of a third party in the relationship and cultural differences. The impact of divorce by parents can affect the child's physical and psychological, social conditions and the future of the child. Divorce cases that occurred in 2021, increased from the previous year. This has an impact on the achievement of children's development. Efforts to maximize attention, affection and parenting are expected to minimize the impact of single parenting. The role of teachers, parents and the community is very much needed for children who are victims of divorce. This paper aims to provide insight to parents regarding their readiness to become parents and how teachers and parents can help facilitate children who are victims of divorce by their parents. The method used during the research is a literature review.

Keyword :

ABSTRAK

Single parent terjadi karena perceraian atau kematian. Perceraian  merupakan putusnya ikatan hubungan antara sepasang suami dan istri yang berakibat perpisahan. Perceraian disebabkan oleh banyak hal yaitu tidak adanya lagi rasa mencintai, gagalnya berkomunikasi, kekerasan dalam rumah tangga, ekonomi yang menurun, adanya pihak ketiga dalam hubungan dan perbedaan budaya. Dampak perceraian yang dilakukan orang tua dapat berpengaruh pada  fisik dan psikologi anak, keadaan sosial dan masa depan anak. Kasus perceraian yang terjadi pada tahun 2021, semakin meningkat dari tahun sebelumnya. Hal ini berdampak bagi  capaian perkembangan anak. Upaya memaksimalkan perhatian, kasih sayang dan pola asuh diharapkan dapat meminimalisir dampak single parent. Peranan guru, orang tua dan masyarakat sangat  di butuhkan bagi anak korban perceraian. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan wawasan pada orang tua terkait kesiapan menjadi orang tua dan bagaimana guru dan orangtua  dapat bantu memfasilitasi  anak korban perceraian yang dilakukan oleh orang tua.  Metode yang digunakan saat penelitian ialah kajian literatur.

Kata Kunci : Single parent, perkembangan anak, anak usia dini

PENDAHULUAN

Pada tahun ini  peristiwa berakhirnya hubungan perkawinan  meningkat dari tahun sebelumnya. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), terdapat 3,97 juta penduduk yang mengakhiri hubungan perkawinan dengan pasangannya hingga akhir Juni 2021. Jika diprosentasekan aka nada di angka  1,46% dari total populasi Indonesia yang mencapai 272,29 juta jiwa[A1] . Saat terjadi perceraian anak akan mengalami banyak tekanan batin. 

Perceraian orang tua akan membawa dampak sangat buruk bagi pertumbuhan anak secara khusus selain dari perkembangan mental yang berpengaruh pada  pendidikan dan perubahan social emosional anak dalam lingkungan pada anak. Perubahan social emosional anak akan terjadi, walau sudah diupayakan sebaik mungkin bagaimana proses  penyelesaian perceraian terjadi. Tidak dapat dihindarkan anak akan mengalami perubahan sikap menjadi lebih pasif,  sinis, dingin,  merasa kehilangan hingga  menurunnya prestasi. 

Kondisi kejiwaan peseerta didik yang oayah ibunya memutuskan menyelesaikan hubungan perkawinan sangat mengkhawatirakan sehingga butuh perhatian khusus dengan pendampingan yang berkelanjutan. Sehingga diharapkan bagaimana kondisi kejiwaannya terus dapat semakin membaik. Hal ini akan berpengaruh pada bagaimana perkembangan bukan hanya kejiwaanya tetapi juga perkembangan social dan pendidikannya juga terdamapak. Saat anak memiliki kondisi kejiwan yang baik maka bagaimana  sikap, pengetahuan dan keterampilannya terus termaksimalkan sehingga dapat lebih maksimal mengaungi kehisupannya di masa selanjutnya (Ramadhani et al., 2016).[A2]

Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi dari tumbuhnya karakter  pendidikan sepanjang hayat (long life education) yang merupakan gerbang  utama untuk anak siap menghadapai  kehidupan sesuai jamannya. Masa usia dini ini  merupakan "golden age period" artinya  pada masa emas ini  seluruh aspek perkembangan manusia, baik nilai agama dan moral, fisik motorik, kongnitif, sosial emosional dan seni. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline