Lihat ke Halaman Asli

ACJP Cahayahati

TERVERIFIKASI

Life traveler

Mungkinkah UMKM Menjadi Pionir Fair Trade dari Indonesia?

Diperbarui: 11 Desember 2020   15:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kripik Singkong dari Indonesia (weltlaeden.de)

Belum lama ini di Whatsapp Group keluarga kami, seorang keponakan menawarkan hasil kerajinan tangan dari anyaman eceng gondok hasil karya sebuah UMKM. 

Tawaran seperti ini memang semakin digencarkan untuk menjadi salah satu usaha membantu melancarkan jalur perdagangan yang tersendat atau terhenti di masa Pandemi Covid-19. Di Jerman sendiri dengan berulangnya lockdown atau soft lockdown atau pembatasan aturan, berbagai sektor ekonomi juga bernasib sama.

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau UMKM di Indonesia selama ini selalu menjadi penggerak ekonomi bangsa di masa-masa sulit. Sebuah usaha dikatakan mikro, kecil atau menengah ini tergantung dari besar keuntungan bersihnya per tahun. 

Sifat dari UMKM itu sendiri fleksibel dan relatif tidak melibatkan modal besar sehingga keberadaannya semakin menjadi sangat penting di masa Pandemi seperti saat ini.

Melihat hasil kerajinan tangan, yang ditawarkan keponakan saya itu, mengingatkan saya akan barang-barang yang dijual di Weltladen Jerman. (Weltladen adalah sebuah toko yang menjual barang-barang fair trade dari berbagai negara terutama negara berkembang). 

Mungkinkah hasil kerajinan tangan dari anyaman eceng gondok ini diekspor ke Jerman atau menjualnya sebagai komoditas fair trade?

Apa itu Fair Trade dan Sejarahnya

Fair Trade atau kalau diterjemahkan langsung Perdagangan Adil merupakan sebuah gerakan yang diawali saat 2 wilayah religius di USA mulai mengimpor barang dari Puerto Rico dan tahun 1958 mulai berdiri sebuah toko Fair Trade

Isu perdagangan adil ini mulai mempengaruhi beberapa kota di Eropa tahun 1960 sehingga sebuah toko alternatif pertama didirikan di Belanda dengan nama S.O.S. Di Jerman sendiri baru tahun 1973, toko pertama 3. Weltladen berdiri di Stuttgart.

Perdagangan adil ini mengusung isu pendapatan yang fair bagi produsennya (misalnya pengrajin atau petani) untuk hidup layak, tidak memperkerjakan dan mengeksploitasi anak-anak, memperhatikan hak azazi manusia dan berkesinambungan untuk lingkungan. 

Di Jerman sendiri, barang-barang yang dijual di Weltladen hampir 2 atau bahkan 3 kali lebih mahal dari komoditas yang ada. Harga biji merica misalnya Aldi, supermarket grosir, menjual 0,99 Euro/40 gram sedangkan di Weltladen merica dari Srilanka dijual 3,2 Euro/40 gram, jauh kan hampir 3x lebih harga dari harga di supermarket grosir.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline