Lihat ke Halaman Asli

Sawit: Antara Sayang dan Malang

Diperbarui: 29 Oktober 2015   18:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Akhirnya semua marah. Rakyat marah. Orang kota marah, penduduk desa juga. Penghuni hutan pun murka dan menderita. Bahkan negara-negara tetangga juga merasa tidak senang dengan situasi seperti ini. Asap dimana-mana, menyelimuti sebagian besar angkasa Asia Tenggara, mengganggu pernafasan dan juga merusak sendi-sendi ekonomi kehidupan.

Volumenya kian hari kian pekat, belum tampak tanda-tanda akan berkurang. Siapa sangka pada kahirnya dari asap bisa timbul malapetaka. Anak-anak terserang ISPA, banyak penerbangan tertunda, sekolah diliburkan dan lain-lain yang berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi.

Dan untuk kesekian kalinya, hampir bisa dikatakan noda ini timbul dari pembakaran. Pembakaran di lahan gambut dan juga hutan yang menimbulkan asap dalam jumlah besar. Sampai-sampai angkasa raya tak mampu menampungnya, terbukti dari cahaya matahari yang sulit menembus kepekatan asap.

Ada sebuah ungkapan bahwa sejarah pasti berulang. Tahun lalu asap timbul. Tahun ini muncul kembali. Dan pelakunya seringkali dianggap sama, yaitu perusahaan yang terkait dengan industri kelapa sawit. Industri yang tumbuh subur di negara tropis seperti Indonesia. Industri yang memberikan keuntungan nyata bagi pemiliknya. Industri yang kerap diserang, dikritik dan dihadang oleh para pecinta lingkungan dan penyayang hutan. Industri yang telah banyak melahirkan sekumpulan orang kaya baru.

Sayangnya menyingkirkan kelapa sawit dari rantai kebutuhan dunia adalah hal yang mustahil dilakukan. Sawit telah berkontribusi bagi banyak hal dalam roda kehidupan insan. Sawit bahkan sedang dikembangkan dan terus diupayakn menjadi salah satu energi alternatif masa depan yang ramah lingkungan.

Lalu apa masalahnya? Masalah pokoknya adalah perluasan. Permintaan dunia yang tinggi terhadap produk dari kelapa sawit membuat perluasan menjadi jurus perusahaan untuk menguasai pasar. Sayangnya, lahan yang tersedia di bumi terbatas karena tidak semua permukaan bumi dapat diperuntukkan menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Sangat disadari bahwa lahan-lahan seperti hutan, gambut, rawa dan lahan-lahan kritis yang lain bukan merupakan pilihan yang tepat untuk tanaman industri ini. Sehingga pilihan menjadi tidak ada.

Perusahaan-perusahaan kelapa sawit setiap tahun mengagendakan ekspansi dan peningkatan volume produksi. Tekanan ini memaksa managemen mencari pilihan yang tersedia meski terbatas. Dan perluasan yang dipaksakan memakan korban. Hutan dibabat. Lahan gambut dibakar.

Disamping itu, hal ini diperparah oleh perluasan yang terjadi akibat tekanan dan himpitan ekonomi yang banyak dilakukan oleh rakyat biasa. Hutan menjadi sasaran akhir bagi rakyat jelata untuk meningkatkan taraf ekonomi. Rakyat cukup membuka hutan atau lahan gambut yang masih kosong, maka penguasaan lahan tersebut secara konvensional jatuh ke tangan mereka. Dan lagi-lagi senantiasa yang akan ditanam adalah kelapa sawit.

Masalah moralnya adalah keserakahan. Fakta menunjukkan bahwa para pemilik sawit adalah orang yang sudah kaya. Modal pendidikan dan sosial tentunya tinggi. Begitu juga dari aspek jajaran managemen, pastinya berasal dari pendidikan tinggi dan memiliki struktur ekonomi yang stabil. Namun keserakahan, hasrat untuk terus memiliki dan menguasai, serta menambah pundi-pundi pendapatan merangsang diri untuk terus menambah, menambah dan menambah.

Sehingga, solusi dasarnya adalah kesadaran. Kesadaran bahwa kita tidak bisa melulu hidup dengan kelapa sawit di sekitar kita. Kita membutuhkan habitat dan ekosistem yang lain agar alam seimbang dan tetap dalam equilibrium. Mungkin kita tidak membutuhkan gajah dan orang utan, tapi semesta membutuhkan mereka demi kelestarian. Mungkin kita terpaksa menebang dan membuka lahan, tapi makhluk lain juga perlu tempat bernaung dan bermain. Kesadaran inilah yang harus dipupuk secara kolektif. Kesadaran bahwa kita harus senantiasa hidup berdampingan. Kesadaran bahwa kita akan mewariskan lingkungan yang baik dan benar kepada anak cucu.

Dari kesadaran ini diharapkan timbul sikap bijaksana.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline