Lihat ke Halaman Asli

Kang Win

Penikmat kebersamaan dan keragaman

2 Ramadhan dan 2 Lebaran dalam 1 Tahun yang Sama

Diperbarui: 22 April 2021   10:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tirto.id

Bagi pembaca yang lahir di medio 90-an ke seni, bisa dipastikan belum pernah mengalamii 2 kali puasa Ramadhan di tahun yang sama. Apakah pernah ada 2 kali bulan Ramadhan di tahun yang sama? Jawabannya: Pernah terjadi. Bahkan 2 kali lebaran di tahun yang sama juga pernah terjadi. Ini tentu bukan dalam satu tahun Hijriyah, tapi dalam satu tahun Masehi.

Mengapa bisa terjadi ? Seperti diketahui ada perbedaan dasar perhitungan dalam penetapan waktu antara Kalender Tahun Masehi dan Kalender Tahun Hijriyah.

Kalender Masehi didasarkan pada peredaran matahari mengelilingi bumi sehingga waktu satu hari dalam Kalender Masehi dimulai saat tengah malam (jam 00.00). Sedangkan Kalender Hijriyah didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi, sehingga waktu satu hari dimulai saat terbenamnya marahari.

Karena perbedaan dasar perhitungan inilah maka terjadi perbedaan jumlah hari dalam setahun dari kedua kalender tersebut, yakni kalender Hijriyah lebih pendek antara 10 - 11 hari dibangdingkan tahun Masehi. Perbedaan jumlah hari itu antara lain menyebabkan tanggal 1 Ramadhan dan Hari Iedul Fitri menjadi maju antara 10 - 11 hari setiap tahunnya.

Saya pertama kali mengalami dua bulan Ramadhan di tahun yang sama pada tahun 1998. Pada tahun itu tanggal 1 Januari bertepatan dengan tanggal 2 Ramadhan 1418 H dan Lebaran ( Hari Raya Iedul Fitri) jatuh pada tanggal 31 Januari 1998 atau 2 hari setelah perayaan Imlek oleh Saudara kita dari etnis Tionghoa.

Tahun 1998 adalah salah satu tahun tersulit dalam perjalanan Indonesia Modern. Setelah dihajar Krismon sejak 1997 perekonomian Indonesia benar-benar limbung. Tanggal 15 Januari 1998 Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan IMF.

Sebuah photo yang betedar luas sempat mengguncang masyarakat. Sebuah photo yang memperlihatkan bagaimana Presiden Soeharto tampak menunduk menandatangani LoI itu. Sementara di sampingnya Michael Camdesus, Direktur IMF menyaksikannya dengan berdiri sambil bersedekap tangan.

Peristiwa yang bertepatan dengan 16 Ramadhan 1418 H itu dianggap sangat melecehkan harga diri Bangsa Indonesia dan menandai takluknya rezim orde baru terhadap gejolak perekonomian. Sejak itu bisa dikatakan Presiden Indonesia sudah bukan Soeharto lagi tapi Michael Camdesus dan IMF.

Turbulensi politik yang mencapai puncaknya pada peristiwa Kerusuhan Mei (12 - 15 Mei 1998) menjadi akhir kekuasaan Rezim Orde Baru. Tanggal 21 Mei 1998 Soeharto meletakkan jabatannya sebagai Presiden Indonesia.

Bulan Ramadhan yang kedua di tahun 1998 terjadi di bulan Desember. Awal Ramadhan 1419 H jatuh antara tanggal 21 dan 22 Desember 1998. Ini berarti Ramadhan 1419 H melewati Perayaan Natal oleh Umat Kristiani.

Saya masih ingat di hari Natal itu (25 Desember 1998), ucapan Merry Christmast banyak sekali terucap dari mulut saya di Bandara Perth Australia. Pagi itu saya dijadwalkan terbang pulang ke Indonesia dengan menumpang Garuda Indonesia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline