Lihat ke Halaman Asli

irvan sjafari

TERVERIFIKASI

penjelajah

Fiksi Bersetting Sejarah, Riset Kuat, Mengapa Tidak?

Diperbarui: 10 Oktober 2021   21:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi-Foto: pustakapreangerblog.wordpress.com

Apakah Sastra bisa berjalan dari sejarah dan sebaliknya sejarah bisa dimulai dari sastra? Demikian kira-kira tagline dari Webinar Sadaring Satu Pena  bertajuk Sejarah dalam Sastra, Minggu 10 Oktober 2021, yang saya ikuti.

Kalau saya mencoba menjawab bergantung pada metodologinya terutama pada sumber yang digunakan apakah  otentik, orisinal, lengkap dan kemudian sumber-sumber itu harus diverifikasi (kritik sumber). 

Kalau saya tetap kukuh bahwa sebaiknya berupaya  menggunakan sumber primer, di samping menggunakan sumber sekunder dalam menulis artikel sejarah secara akademik maupun populer dalam menulis cerpen atau novel berlatar belakang sejarah.

Saya tertarik mengikuti webinar ini karena ingin tahu apakah satu persepsi dengan saya atau tidak. Seperti membuat film berlatar belakang sejarah, yang pernah saya tulis di Kompasiana, menulis fiksi baik cerpen maupun novel membutuhkan  riset dan pasti tidak mudah.     

Dalam pengantar webinar,  S. Margana, Koordinator Ketua Presedium Satu Pena mengatakan  tugas sejarah itu kembar. Sejarah harus menceritakan suatu peristiwa sesuai dengan kejadian atau fakta dan menuliskannya dengan mengikuti prosedur ilmiah, spasial, temporal, kronologis berdasarkan fakta atau bukti. Sedangkan sastra cukup mengungkapkan gambaran tentang peristiwa yang dapat dipahami pembaca.

Iksaka Banu, seorang seniman yang kerap menulis cerpen berlatar belakang sejarah masa kolonial salah seorang pembicara mengatakan, dalam menulis dia ingin menampilkan sosok yang bukan tokoh utama (pelaku sejarah)  yang banyak ditulis sejarah, tetapi apa yang terjadi bak pada orang Belanda maupun pribumi (Indonesia) yang bukan tokoh.

Dalam cerpen "Mawar di Kanal Macan",  penulis kelahiran 7 Oktober 1964  ini mengisahkan percintaan antara Letnan Eropa dan seorang perempuan pribumi yang terhalang hukum kolonial dan juga menyinggung puritanisme protestan masa itu.

"Saya menggunakan tiga sumber, yaitu catatan perjalanan orang Belanda yang datang ke Indonesia walau bukan dalam bentuk buku atau jurnal, memoar atau kenang-kenangan orang Belanda yang ada di Indonesia hingga novel dan kajian sastra terkait naik," ujar Banu dalam webinar itu.

Cerpen lainnya yang dijadikan contoh ialah "Teh dan Pengkihanat" tentang pemberontakan buruh teh Tionghoa  melawan kesewenangan pemerintah Hindia Belanda.  Banu mengungkapkan untuk menumpas pemberontakan itu, Belanda menggunakan jasa Sentot Alibasyah, yang tak lain panglima Pangeran Diponegoro yang dibujuk untuk menyerah.

Setahu saya, Sentot ini dikirim Belanda untuk menghadapi pasukan Padri dipimpin Imam Bonjol di Sumatera Barat.  Namun dalam suatu peristiwa pada Januari 1833 di mana pasukan Padri mengadakan serangan besar-besaran  menewaskan ratusan tentara Belanda, Sentot dianggap berkolaborasi dengan pasukan Padri, hingga dia dibuang ke Bengkulu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline