Lihat ke Halaman Asli

Kota Tua yang Mati dan Ingin Dihidupkan Kembali

Diperbarui: 20 April 2018   18:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. Pribadi Junaidi Khab_Gerimis di Atas Kertas

Setiap manusia memiliki kecenderungan sendiri untuk memainkan cinta dan perasaannya masing-masing. Dari sebuah perjumpaan atau perkenalan, cinta datang melanda dan menghajar membabi buta, cinta hadir tanpa memandang tempat dan waktu, sementara perasaan akan terus membentuk kekuatan. Dari kekuatan itu, cinta akan terus terbangun tanpa peduli terhadap segala hal, bahkan yang irasional.

Secara acak dalam pemakaian alur dan sudut pandang, Rosyid mencoba menceritakan sebuah kisah kehadiran cinta dalam buku yang berjudul Gerimis di Atas Kertas ini. Dalam tiga kisah yang ditulis, dia mengisahkan cerita dari sudut pandang yang berbeda, namun dalam satu alur cerita yang masih berkaitan. Jika kita tak cermat mengamati dan mengingat nama-nama tokohnya, kisah pertama, kedua, dan ketiga tak memiliki relevansi sama sekali. Dengan kata lain, Rosyid berusaha memutar waktu dari sudut pandang yang berbeda atas suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan tokoh-tokohnya.

Upaya yang dilakukan oleh Rosyid merupakan ide yang cukup cemerlang dalam mengisahkan kehidupan tokoh-tokoh ceritanya yang tentu menjadi cermin lingkungan hidup pribadinya, Ampenan. Selain gaya berceritanya yang maju-mundur, kita akan dibuat kaget oleh jalan hidup tokohnya yang menyimpan rahasia sebagaimana umumnya realitas kehidupan manusia. Dari kisah-kisah yang tampak datar pada permukaannya, pada bagian-bagian tertentu kisah-kisah itu menghadirkan sebuah ledakan dahsyat dalam perasaan.

Perlu kita ketahui, bahwa buku ini bukan novel utuh yang disuguhkan oleh Rosyid secara berkesinambungan. Dari empat judul yang disajikan, hanya tiga judul kisah yang berkaitan (Menunggu Ayu, Setahun Kemudian, Gerismis di Atas kertas) dan satu kisah terakhir (Cakwe Kota Tua) yang tak ada sangkut-pautaya sama sekali dengan tiga kisah sebelumnya. Di dalam buku ini, Rosyid mengemas kisah-kisahnya berlatar satu tempat, yaitu Ampenan di Lombok yang pernah memiliki peradaban.

Secara tidak langsung, Rosyid ingin mengenalkan daerahnya sendiri melalui buku ini sebagaimana Kiki Sulistiyo dalam karyanya, Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? (2017) yang juga menyinari daerahnya dengan puisi-puisi lokalitas. Rosyid memberikan gambaran tentang kota Ampenan sebagai kota tua yang ada di Lombok, begitu juga Kiki. Sebuah usaha untuk menyinari kota kelahiran kita, memang menjadi sebuah kewajiban tersendiri dengan caranya masing-masing.

Rosyid menempuh jalan berkisah dengan cara memberikan gambaran realitas sosialnya melalui buku ini. Kehidupan masyarakatnya yang tertinggal karena faktor ekonomi. Dia memulai sebuah cerita tentang perasaan yang tumbuh akibat akarnya hilang. Dengan kehilangan itu sendiri, kisah ini lahir bersama semangat hidup untuk tetap menjaga keseimbangan hidup masyarakat Ampenan yang terpencil dan tidak melanjutkan pendidikan agar bisa memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas dengan membaca dan belajar menulis.

Melalui karya ini, Rosyid berusaha menghidupkan kembali Ampenan sebagai kota tua yang mati. Ampenan dulu sempat menjadi daerah yang cukup bersinar. Hal itu terbukti dengan bangunan-bangunan tua yang bermodel gaya kolonial. Dengan kata lain, Rosyid ingin mengatakan bahwa Ampenan bukan kota yang tertinggal, tapi Ampenan merupakan kota yang memiliki sisa-sisa kemajuan, karena pada masa silam termasuk kota yang maju namun sekarang hanya tinggal puing-puing peradabannya.

Satu hal yang bisa kita apresiasi atas karya Rosyid ini, dia telah mampu mengemas kisah sebuah cinta, perjuangan, dan kenestapaan yang ujung-ujungnya untuk mempromosikan kota kelahirannya sendiri. Bumbu asmara yang diracik oleh Rosyid memang mengena. Sebuah kisah tentang cinta yang terpendam akhirnya tumbuh bercabang tiga.

Meskipun kisah-kisah yang disajikan oleh Rosyid penuh perjuangan perasaan yang terbakar, pembaca akan dibuat puas karena cinta yang dipendam oleh tokohnya bersambut, menemukan puncaknya, ceritanya selesai. Dalam persoalan asmara, di satu sisi harus ada pengorbanan perasaan, sementara di sisi lain mendapatkan keteduhan di antara cinta yang bersemi.

Tiga kisah pada permulaan menautkan cinta dan perasaan dengan mengembangkan kehidupan masyarakat dan pemuda lokal di Ampenan, serta bagaimana seorang penulis dalam kisah itu harus mengimbangi pola hidupnya dengan olahraga dan makan yang bernutrisi. Pada kisah terakhir yang diangkat oleh Rosyid lebih mengacu pada promosi kuliner khas Ampenan. Tetapi, kisah tentang kuliner itu tetap dikemas dengan citarasa cinta yang bersemi di antara tokohnya.

Sepertinya memang tak menarik jika sebuah kisah atau novel yang disajikan oleh seorang penulis tanpa melibatkan cinta atau perasaan di dalamnya. Model semacam ini sebenarnya tergolong klise dalam dunia kesusasteraanMeskipun demikian, kisah cinta akan menjadi bumbu penyedap atas kisah-kisah yang ingin disampaikan oleh Rosyid dalam buku ini.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline