Lihat ke Halaman Asli

Zahrotul Mujahidah

TERVERIFIKASI

Jika ada orang yang merasa baik, biarlah aku merasa menjadi manusia yang sebaliknya, agar aku tak terlena dan bisa mawas diri atas keburukanku

Kisah Kupi dan Hutan Bakau

Diperbarui: 25 Oktober 2021   10:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: idntimes.com

"Ayah, mengapa kita tidak pernah bertemu dengan Paman Bangau Putih, teman ayah?" Tanya Kupi, si kepiting kecil, kepada ayahnya.

Memang sudah lama Kupi tak bertemu dengan Paman Bangau Putih. Bahkan dengan teman-teman kecilnya pun Kupi tak lagi bisa bertemu.

Biasanya Kupi bertemu dengan Upi si udang kecil, Kuro si kura-kura, Bangau Cilik dan Momo si monyet.

Ayah Kupi selalu menasehati agar Kupi bersabar.

"Teman-temanmu pasti baru sibuk dengan orang tua mereka, Kupi. Jadi belum bisa bermain denganmu seperti biasanya."

Kupi hanya mengangguk. Lalu mengajak ayahnya bermain. Dan pada malam harinya Kupi menunggu datangnya air pasang yang akan membawanya ke hutan bakau, dunia yang sangat mengasyikkan.

Kupi dan teman-teman merasa nyaman bermain di hutan bakau. Kejar-kejaran, petak umpet atau tidur bersama di sela akar bakau yang melintang. Seru sekali! Kupi merindukan itu semua. 

***

Ayah Kupi yang merasa kasihan kepada Kupi mencoba mencari keberadaan teman-teman Kupi. Kupi sering menangis karena merasa dijauhi teman-temannya.

Saat mencari teman-teman Kupi, ayah Kupi bertemu Paman Nelayan. Dari Paman Nelayan ayah Kupi memperoleh berita yang pasti membuat Kupi sedih.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline