Lihat ke Halaman Asli

Johan Japardi

Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Fisika untuk Hiburan 32 (Bunyi): Jika Kecepatan Bunyi Lebih Kecil

Diperbarui: 2 Agustus 2021   13:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gelombang bunyi. Sumber: www.newscientist.com

Gelombang bunyi merambat melalui interaksi antar atom, yang membatasi kecepatannya.

Setelah topik-topik lain diuraikan dengan berbagai judul artikel saya sebelumnya, kali ini saya akan mengulas topik Bunyi dari Fisika untuk Hiburan.

Bunyi adalah bagian dari pengalaman sensorik kita sehari-hari. Seperti halnya mata yang berfungsi mendeteksi cahaya dan warna, demikian pula kita dilengkapi dengan telinga yang berfungsi untuk mendeteksi bunyi.

Kita jarang meluangkan waktu untuk merenungkan karakteristik dan perilaku bunyi dan mekanisme produksi, perambatan (propagasi), dan deteksi bunyi. Dasar untuk memahami bunyi adalah fisika gelombang. Bunyi adalah gelombang yang dihasilkan oleh benda yang bergetar, yang kemudian merambat melalui sebuah medium dari satu tempat ke tempat lain.

Gelombang bisa digambarkan sebagai gangguan yang bergerak melalui medium, mengangkut energi dari satu tempat ke tempat lain. Medium hanyalah bahan yang melaluinya gangguan itu bergerak. Medium bisa dianggap sebagai serangkaian partikel yang berinteraksi.

Bunyi bisa dicirikan sebagai gelombang mekanis, gelombang longitudinal, dan gelombang tekanan. Penjelasan rinci tentang sifat-sifat bunyi bisa Anda temukan dalam buku-buku pembelajaran fisika SMA maupun universitas dan sebagaimana halnya topik-topik lain, di sini bunyi hanya akan tinjau dari aspek Fisika untuk Hiburan.

Kecepatan Bunyi
Bunyi merambat melalui medium udara dengan kecepatan 340 m/s. Jika perambatan ini yang jauh lebih lambat dari 340 m/s, maka ilusi pendengaran akan jauh lebih sering terjadi.

Misalkan bunyi merambat dengan kecepatan bukan 340 m/s tetapi 340 mm/s, yang lebih lambat dari kecepatan seseorang berjalan.

Lebih lanjut misalkan Anda sedang duduk di kursi berlengan dan mendengarkan sebuah kisah yang diceritakan oleh seorang teman yang memiliki kebiasaan mondar-mandir dalam ruangan sambil berbicara.

Dalam kondisi normal, hal ini tidak akan menjadi kendala. Tetapi jika kecepatan bunyi jauh lebih kecil, Anda tidak akan bisa memahami cerita teman Anda dengan tepat. Ucapan awal teman Anda akan disusul oleh lebih banyak ucapan dan menghasilkan bunyi campur aduk yang tidak koheren.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline