Lihat ke Halaman Asli

Yenni Djajalaksana

Dosen Sistem Informasi Universitas Kristen Maranatha

Potensi Investasi Kekinian di Zaman High-Tech: Saham, Mata Uang Kripto, dan Emas!

Diperbarui: 25 Juni 2021   07:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Webinar "The Investment Puzzle"/Dokumentasi pribadi

Situasi Pandemi Covid-19 yang telah kita alami sejak akhir 2019 dan melanda dunia, telah menyebabkan penduduk dunia mencari berbagai cara alternative untuk berinvestasi. Dengan meningkatnya trend penggunaan teknologi di jaman high-tech sekarang ini, investasi yang paling kekinian adalah Saham, Mata Uang Kripto, dan Emas! Walaupun banyak terdapat opsi lainnya untuk investasi dengan varian risiko yang rendah ke tinggi, pada jaman high-tech sekarang ini memang ketiga jenis tersebut yang paling marak dibahas oleh masyarakat. Sebagaimana layaknya, investasi macam apapun selalu mengandung risiko, namun, tingkat pengembalian yang tinggi memikat orang untuk bergerak menuju cara investasi di Era Baru Investasi tersebut.

Siapa yang tidak ingin cepat kaya? Banyak video di YouTube yang ditayangkan dengan begitu menarik, bagaimana anak-anak muda di usia hanya 20 tahun telah dapat menjadi kaya raya dan bahkan mencapai pendapatan 1 Milyar rupiah! Kaya mendadak ini memang bukan tanpa perjuangan, mereka harus memutar otaknya dan sigap dalam memainkan investasinya. Investasi emas pastinya yang paling dianggap aman dan tradisional, dan di jaman sekarang investasi emas pun makin dimudahkan karena tidak perlu berbentuk fisik lagi tapi bisa juga berupa emas digital. Untuk saham, sudah pasti sekarang makin banyak saja peminat saham, dan memang jika pandai berjual beli atau menyimpan saham berpotensi pengembalian yang baik, bisa saja membawa kekayaan yang luar biasa. Di tahun 2021 ini, terdapat tren yang paling mengejutkan karena BitCoin - mencapai harga tertinggi yang membuat masyarakat mulai melirik investasi cryptocurrency ini dan yang paling menarik dari BitCoin adalah desentralisasi kekuasaan keuangan. Di tengah maraknya opsi investasi dengan teknologi digital, sebetulnya sebagian besar masyarakat memiliki pengetahuan yang terbatas dan akibatnya mereka merindukan arah yang lebih jelas untuk berinvestasi di era digital baru ini. Bahkan generasi senior maupun anak muda sama-sama bersemangat berinvestasi di era baru investasi digital.

Pada Webinar "The Investment Puzzle: Stocks, Cryptocurrency, Or Gold In The High Tech Era" yang diadakan oleh Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Maranatha pada hari Sabtu, 19 Juni 2021 lalu, terdapat sharing pengetahuan dari empat Pembicara Expert yaitu Bapak Indra Sjuriah (Co-Founder & CMO, IndoGold), Ibu Linda  Lee (Stock Trader and Investor, Lindaleefiboprincess), Ibu Ayu Biyanti Pribadi (Community Engagement, Specialist Tokocrypto), dan Mr. Kavi Saglani (Vice President of Marketing, Cake DeFi Fintech Perusahaan Fintech di Singapore). Acara yang dipandu dengan menarik oleh Moderator Bapak Reagen N. Ciayadi (Satujejaring dan Alumni Program Studi Sistem Informasi Universitas Kristen Maranatha) memaparkan konsep-konsep mendasar yang perlu diketahui masyarakat (Rekaman di YouTube Channel).

Alternative investasi pertama yang relatif berisiko rendah adalah investasi emas, Indra Sjuriah, Co-Founder & CMO Indogold mengatakan bahwa banyak alasan berinvestasi emas yaitu karena emas adalah penyimpanan teraman, yaitu ketika harga aset kertas turun, emas bisa naik. Selain itu, emas juga melindungi kita dari inflasi, karena ketika inflasi meningkat, maka harga emas ikut naik. Emas bisa ditransaksikan di manapun di seluruh dunia yang menerimanya. Untuk jangka panjang, emas adalah investasi yang aman dan meminimalisir ketidakpastian dari kondisi keuangan global.  Indra menyarankan bagi investor peminat emas agar berinvestasi dalam jangka panjang, misalnya untuk kuliah, membeli rumah, atau tamasya seluruh dunia. Untuk jaman high tech sekarang ini, sangat mudah berinvestasi emas contohnya melalui aplikasi IndoGold, yang memudahkan pembelian emas bahkan transfer emas untuk hadiah kepada orang lain. Sekarang dengan adanya saldo OVO dan GoPay, financial technology cashless, juga memungkinkan transaksi di IndoGold yang sangat mudah.

Selanjutnya dengan risiko lebih tinggi dari emas adalah investasi saham. Linda Lee, pemegang Certified Financial Technician (CFTe) wanita pertama di Indonesia membagikan pemikiran bahwa konsep dari kepemilikan saham adalah menjadi pemilih perusahaan yang memperjual belikan sahamnya di pasar Bursa Efek Indonesia. Sebagai contoh adalah masyarakat bisa menjadi pemilik dari Telkom Indonesia, BCA, Mitra Adi Perkasa (Reebok, Planet Sports, Sephora, Starbucks), Indofood, Summarecon, Bank Mandiri, dll. dengan membeli saham di Bursa. Linda menjelaskan bahwa keputusan pembelian saham harus dilakukan setelah melihat laporan keuangan perusahaan.

Cara mendapatkan keuntungan dari saham, menurut Linda ada beberapa cara (1) dari pembagian Dividen yang biasanya disepakati melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), (2) dari Capital Gain dengan menjual saham di harga lebih tinggi dari harga beli. Tentunya pergerakan saham seringkali mengejutkan dan potensi kerugian pun selalu ada, contohnya ketika perusahaan menyatakan pailit atau tidak lagi mendaftarkan sahamnya di Bursa Efek karena likuidasi. Untuk terus waspada dan mencermatinya, pemain saham harus mengamati IHSG, ukuran statistik yang menunjukkan sekumpulan nilai saham yang dievaluasi, yang menunjukkan pergerakan saham yang diperjual belikan di Bursa Efek Indonesia.

Selanjutnya, investasi yang sedang hangat-hangatnya adalah investasi Cryptocurrency atau mata uang kripto. Bitcoin adalah salah satu yang paling populer dan telah mengagetkan dengan kenaikan nilai yang melonjak tinggi, walaupun pada saat artikel ini ditulis, Bitcoin berkali-kali mengalami kejatuhan nilai yang besar! Menurut Ayu Biyanti, Community Engagement, Specialist Toko Crypto, perdagangan atau investasi jenis ini tergolong berisiko tinggi, jadi sebelum berinvestasi harus tahu apa yang dihadapi. Investasi Cryptocurrency muncul karena adanya ketidakpercayaan masyarakat erhadap bank sentral, sehingga buku kas dicatat dalam block chain. Block Chain adalah system database dengan sistem yang terdesentralisasi jadi terdapat di berbagai tempat jadi dapat digerakkan oleh berbagai pihak yang terhubung.

Menurut Ayu, investasi ini menjadi populer karena sebetulnya dalam dunia keuangan, ini adalah Removal of Middleman, jadi semisal kita mau kirim uang ke seseorang biasa kan melewati bank harus ada beberapa proses dan juga memakan waktu yang lama. Sedangkan dengan menggunakan Crypto waktunya lebih instan (7 hari 24 jam), jadi dapat terkirim dengan 1 - 15 menit jika melakukan pengiriman uang menggunakan Crypto. Selain itu dengan menggunakan Crypto fees yang ada lebih kecil antara $0.2 - $2,0.

Di Indonesia, regulasi untuk Cryptocurrency diatur dalam peraturan Menteri perdagangan no 99 Tahun 2018, jadi aset Crypto ini adalah legal di Indonesia namun sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan di bursa berjangka bukan sebagai alat pembayaran. Juga terdapat Peraturan BAPPEBTI nomor 5 Tahun 2019 mengenai ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto yang mengatur pertukaran mata uang kripto ini.

Untuk bertransaksi, bisa dilakukan minimum dalam uang rupiah Rp 50.000, kita bisa memulai investasi dengan Crypto. Menurut Ayu, Tokocrypto merupakan platform untuk jual beli Crypto pertama di Indonesia yang sudah terdaftar di BAPPEBTI. Jadi selain sebagai toko jual beli, ada juga toko news yang memberikan informasi, dan ada juga Toko Outreach. Bahkan di Tokocrypto, terdapat dua program menarik dari Tokocrypto, selain jadi trader jangka panjang bukan jangka pendek. Ada juga passive income dari lock reward (hanya dengan mendiamkan aset yang dimiliki, maka bisa bertambah asetnya).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline