Lihat ke Halaman Asli

Irwan Rinaldi Sikumbang

TERVERIFIKASI

Freelancer

Mau Kerja di BUMN? Pede Aja, Tak Perlu Cari Orang Dalam

Diperbarui: 17 April 2022   08:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Peserta mengikuti ujian Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). (AFP/JUNI KRISWANTO)

Takdir membawa saya berkarier di sebuah BUMN yang bergerak di bidang keuangan. Padahal, awalnya keinginan saya untuk menjadi staf pengajar di almamater saya, nyaris terwujud.

Ketika saya lulus kuliah pada tahun 1985, tanpa harus melamar, sudah "dilamar" terlebih dahulu karena diminta untuk menjadi dosen di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tempat saya menamatkan S-1 Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi.

Memang, ketika itu seorang lulusan S-1 bisa saja menjadi dosen dengan catatan akan ikut kuliah pascasarjana kemudian. Berbeda dengan sekarang, harus minimal S-2 agar bisa diangkat sebagai dosen di program S-1.

Hanya karena proses penerbitan Surat Keputusan (SK) sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) memakan waktu cukup lama, saya tergoda mengajukan lamaran berdasarkan iklan lowongan kerja di Koran Kompas.

Maka, saya pun mengikuti serangkaian tes di kantor pusat sebuah BUMN di Jakarta Pusat. Seingat saya ketika itu ada psikotes, tes wawancara, tes kesehatan, dan terakhir tes "bersih lingkungan", sebelum akhirnya dinyatakan diterima di BUMN tersebut.

Sebagian tes tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sebagai pihak independen yang diminta bantuannya oleh BUMN dimaksud.

O ya, soal "bersih lingkungan" memang saat Orde Baru sangat menentukan. Silsilah keluarga calon karyawan diteliti untuk membuktikan bukan keturunan dari orang yang terlibat partai terlarang (PKI atau Partai Komunis Indonesia).

Setelah beberapa bulan saya menjadi warga ibu kota Jakarta karena ditugaskan di kantor pusat BUMN tersebut, keluarlah SK saya sebagai PNS dengan tugas sebagai dosen. SK ini terpakasa saya tolak dan saya diminta membuat surat pengunduran diri.

Alhamdulillah, saya merasa betah di BUMN tersebut dan setia berkarier selama 30 tahun (1986-2016). Kecuali pernah di Denpasar (1996-1997), selebihnya saya bertugas di berbagai divisi di kantor pusat di Jakarta.

Saya teringat, ada pertanyaan yang menyakitkan dari orang dalam sendiri setelah saya beberapa hari mulai bekerja: "dik, kamu bawaan siapa kok diterima di sini?"

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline