Lihat ke Halaman Asli

Irwan Rinaldi Sikumbang

TERVERIFIKASI

Freelancer

Kalau Tak Bisa Berprestasi, Minimal Jangan Jadi Perusak

Diperbarui: 2 Mei 2021   15:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Wisuda. (sumber: Shutterstock via kompas.com)

Bagi para profesional, bulan puasa bukan berarti bulan untuk bermalas-malasan. Bahwa bulan puasa perlu dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah, bukan menjadi alasan bagi penurunan produktivitas kerja.

Bahkan, bekerja pun bisa bernilai ibadah, bila dilakukan secara bersungguh-sungguh dan diniatkan karena Allah. Dengan bekerja pula kita bisa mendapatkan rezeki yang halal dan nantinya dimanfaatkan sesuai ajaran agama, misalnya dengan membayar zakat, infak dan sedekah.

Maka, membahas dunia kerja dalam konteks "kisah untuk Ramadan", rasanya tetap relevan. Kita dituntut untuk bekerja keras sekaligus bekerja cerdas, agar mampu menghasilkan kinerja yang cemerlang.

Kinerja cemerlang itu, dari kacamata mereka yang berkarier di suatu instansi pemerintah atau pada suatu perusahaan, baik milik negara ataupun swasta, ditunjukkan pada keberhasilan menggapai posisi atau jabatan yang tinggi.

Namun demikian, terhadap mereka yang sudah bekerja sebaik mungkin, bisa saja pada suatu tahap mengalami kegagalan. Artinya, mereka kalah bersaing dalam menggapai posisi yang lebih tinggi atau kinerjanya tidak mencapai target yang ditetapkan atasannya.

Atau, bisa juga apa yang telah mereka idam-idamkan, gagal diwujudkan. Kegagalan itu sendiri sebetulnya hal yang lumrah. Masalahnya adalah bagaimana kita menyikapinya?

Salah satu impian saya sewaktu diterima bekerja di sebuah BUMN adalah mendapat kesempatan meraih gelar master di luar negeri atas biaya dinas. Ketika itu, di penghujung dekade 1980-an, beberapa senior saya dikirim ke sejumlah universitas di Amerika Serikat (AS).

Bahkan, ada juga beberapa senior yang sudah menyelesaikan studinya dengan menggondol gelar MBA, langsung mendapat posisi yang strategis, dan saya menduga karir mereka akan cemerlang.

Untuk dikirim belajar ke luar negeri, ketika itu ada tiga jenis tes yang harus saya ikuti, yakni tes potensi akademik (TPA), tes bahasa Inggris (TOEFL) serta psikotes. Saya ketika itu terganjal di psikotes.

Cukup down saya pada awalnya, merasa kalah dengan beberapa orang teman saya yang lolos seleksi. Bahkan, dua di antara yang lolos adalah teman satu angkatan yang akrab dengan saya.

Berkat sering membaca buku-buku motivasi, saya cepat sadar, bahwa ada banyak cara untuk berhasil dalam berkarier. Pendidikan tinggi di luar negeri bukan satu-satunya jalan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline