Lihat ke Halaman Asli

Irwan Rinaldi Sikumbang

TERVERIFIKASI

Freelancer

Jangan Sebut Anak Bermasalah sebagai Produk Gagal

Diperbarui: 11 April 2019   09:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dok. iwaza.wordpress.com

Dalam sebuah keluarga, lumrah saja bila misalnya dari beberapa orang anak yang dipunyai, ada satu orang yang nasibnya tidak sebaik saudara-saudaranya. 

Misalnya, pendidikannya tidak tuntas sampai menjadi seorang sarjana, pekerjaannya tidak memberikan penghasilan yang cukup, atau mengidap suatu penyakit yang menyebabkan ia sering kontrol ke dokter.

Terhadap kondisi seperti itu, adakalanya dari mulut orang tuanya terlontar secara tidak sengaja bahwa anaknya tersebut sebagai contoh yang gagal. Ibarat buah, ada banyak yang bagus, namun wajar bila ada satu yang busuk.

Tapi betapa terlukanya perasaan si anak jika ia mendengar langsung dari mulut orangtuanya keluar kalimat yang bernada pasrah seperti itu.

Bahkan kalaupun si anak punya kondisi yang lebih parah, misalnya sempat jadi pengguna narkoba, sering begadang, ikut tawuran, atau melakukan tindakan negatif lainnya, tetap saja tidak boleh disebut sebagai produk gagal. Karena ia adalah manusia, bukan produk.

Lha, yang namanya produk saja bisa didaur ulang, apalagi manusia yang selalu dinamis dan gampang berubah. Banyak sekali kita temukan mantan preman yang kemudian memperoleh hidayah lalu sukses sebagai pendakwah. 

Justru tak sedikit orang-orang yang dalam persepsi publik adalah orang baik-baik, orang sukses, tokoh masyarakat, eh belakangan ternyata seorang koruptor yang tertangkap oleh KPK.

Orang tua memang wajib memberikan nasehat atau pandangan demi kebaikan si anak. Tapi jangan memaksakan si anak untuk meraih sukses sesuai standar orang tua. 

Gagal menjadi sarjana, bukan berarti si anak jadi orang gagal. Bahkan bila si anak lebih memilih memulai usaha kecil-kecilan, meski tidak sesuai harapan orangtua, tetap perlu didukung dan kalau bisa difasilitasi.

Ada seorang anak yang sudah dapat pekerjaan di kantor sebuah perusahaan yang mapan, bergaji relatif besar, hanya betah selama 9 bulan saja, setelah itu ia resign yang membuat orang tuanya sedih.

Si anak malah kembali mengembangkan hobi bermain musik dan serius mau jadi pemusik profesional. Ya, bagi orang tua tak ada yang lebih baik daripada mendukung keinginan si anak, dengan anggapan masing-masing anak sudah punya jalannyai sendiri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline